Latest Post

Rahasia CIA dibalik G-30-S

Written By Ariearmend on Friday, September 23, 2011 | 6:16 AM


Ditulis pada Nopember 26, 2008 oleh kapasmerah
Sumber: (Indonesia Media Online-2001)
Dipetik dari artikel Kompas
 
Jenderal Soeharto Menuju Tahta Kekuasaan
Persepsi, itulah yang memberi makna atas suatu realitas. Fakta yang sama dapatberbeda maknanya secara diametris akibat sudut pandang yang tidak sama. Makna sulit dikompromikan, terlebih jika dibalut ideologi. Peristiwa G30S, misalnya,bagi bangsa Indonesia dianggap sebagai pengkhianatan Pancasila. Tindak balasyang dilakukan terhadap PKI menjadi layak dan sepantasnya. Banjir darah yang menewaskan antara 500.000 - 1.000.000 rakyatIndonesia, sekitar 700.000 orang ditangkap dan disiksa tanpa proses hukum,menunjukkan dahsyatnya makna suatu peristiwa yang dicerna oleh kesadaran sosialsuatu bangsa. Di sini upaya kompromi hanyalah kesia-siaan. Orde Baru yang dibangun di atas darah dan mayat-mayat itu,menjadikan eristiwa G30S sebagai hantu yang menakutkan rakyat, yang setiapsaat dapat muncul. Peristiwa ini menginspirasikan Orde Baru membentengi rakyatdengan ideologi pembangunan melalui P-4.
Sebaliknya bagi Pemerintah AS, G30S adalah aib jika dibuka pada publik. Arsip-arsip menyangkut peristiwa ini disimpan rapat di pusat dokumenCIA, kendati peristiwa itu sendiri sudah 36 tahun berlalu. UU kebebasanmemperoleh informasi AS memang menyebut batas 25 tahun usia suatu rahasianegara dapat dibuka untuk publik. Tapi ini bergantung pada pertimbanganpresiden. Zaman memang sudah berubah, generasi berganti, bahkan rakyat ASsedikitnya delapan kali menyenggarakan pemilu presiden, namun arsip peristiwaG30S tetap dikategorikan rahasia negara. Dibandingkan dengan aktivitasspionase, kontra spionase, dan operasi rahasia lannya yang dilakukan AS di eksnegara tirai besi, Uni Soviet, yang hampir seluruh arsipnya sudah dibuka,peristiwa G30S dipandang jauh lebih sensitif.
Laporan CIA tahun 1967 menyebut peristiwa pembantaian inimerupakan salah satu yang terburuk sejak Perang Dunia II. Ia disejajarkandengan pembantaian jutaan warga Yahudi oleh Nazi Jerman. Lantas jika CIAsendiri menyatakan peristiwa itu sebagai terburuk di dunia, lantas mengapapelakunya tidak diseret ke Mahkamah Internasional, seperti halnyaperwira-perwira Nazi Jerman?
INILAH yang membuat hambar 128 halaman yang menuturkan “Coup and Counter Reaction: October 1965-March 1966″ kemudian dilanjutkan & “The UnitedStates and Suharto: April 1966-December 1968″ (180 halaman), dalam buku Foreign Relations of The United States, 1964-1968 Volume XXVI.”
Dibuka dengan memorandum CIA untuk Presiden Lyndon B Johnsonmengenai perkembangan situasi RI. Di situ tercatat tanggal 1 Oktober 1965 pukul 07.20. “Saat ini, di Jakarta sedang terjadi suatu pergerakan kekuatan, yang mungkinimplikasinya sangat jauh. Kelompok yang menamakan dirinya 30 September, mengklaim berhasil menggagalkan rencana kudeta jenderal-jenderal…” Pada paragraf terakhir, “Sangat mungkin Soekarno sudah lebih dulu mengetahui gerakan ini dan apa tujuannya. Penggerak utama seluruh peristiwa ini agar berjalan lancar, baik dalamperencanaan waktu maupun detailnya, adalah Wakil Perdana Menteri I Subandriodan pemimpin komunis yang
dekat dengan dia maupun Soekarno.”
Laporan tersebut begitu cepat ‘diarahkan’ pada BungKarno, Subandrio, dan PKI. Telegram-telegram yang menyusul dari Jakarta,termasuk Dubes Marshall Green, juga mencerminkan sikap demikian. Informasiseperti ini pula yang disampaikan dalam telegram Direktur Wilayah Timur Jauhkepada Asisten Menhan untuk Masalah-masalah Keamanan Internasional, 4 Oktober1965. Laporan-laporan itu mempunyai pola sama. Selalu diawali dengansituasi yang belum menentu, pertarungan kekuatan belum final. Kemudian ditengah gelap gulita itu, muncul cahaya. Di atas pentas terlihat sosok trioSoekarno, Subandrio, dan PKI. Agak membingungkan memang jika kita menyimak arsip-arsip yangsebagian besar
materinya bersifat tentatif dan spekulatif. Suatu hal yang seharusnya dijauhkan dalam dunia intelijen. Ringkasan laporan CIA tanggal 6 Oktober, misalnya, pada poin 16 dikatakan, PKI tidak mungkin mengelak dariketerlibatannya dalam G30S. Sebab tajuk HarianRakyat, corong resmi PKI, menyebut dukungannya pada gerakan Letkol Untung tersebut.
Akan tetapi, pada poin 18 disebutkan, Ketua PKI Aidit tentulahtidak merestui gerakan demikian bahkan juga perubahan pemerintahan. Sebab,situasi dalam maupun luar negeri saat itu sangat menguntungkan PKI. Di sinikemudian disebut kemungkinan sejumlah kader yang mengambil inisiatif sendiriikut dalam gerakan itu.
Peter Dale Scott dalam TheUnited States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967, justru melihat adakeanehan dalam Harian Rakyat yangterbit waktu itu. Padahal penguasa militer di Jakarta melarang semua suratkabar terbit. Larangan itu disiarkan melalui radio dan Televisi setelah gerakan Letkol Untung dipatahkan tanggal 1 Oktober. Mantan dosen dan diplomat inimelihat indikasi keterlibatan CIA dan militer dalam mencetak Harian Rakyat itu.
Washington sendiri atas permintaan Dubes Green, mengoperasikan pemancar gelapnya, Radio Jakarta dan Indo Press. Di samping itu, Suara Amerika,VOA, ditingkatkan frekuensinya. Semua radio ini menyebarluaskan langsung propaganda hitam, yang langsung menuding PKI dan Subandrio dalang peristiwa G30S. Soekarno sendiri mengetahui rencana gerakan itu. Data-data palsu direkayasa sedemikian rupa sehingga membentuk opini publik. Mengenai propagandahitam itu sendiri sudah disetujui 303 Committee sebagai bagian dari operasi rahasia di Indonesia.
Melalui Dubes Marshall Green di Jakarta, Washington menyampaikansalam hangat dan dukungan kepada Jenderal Nasution dan Jenderal Soeharto yangmemimpin Angkatan Darat mematahkan gerakan Untung Cs. Mengetahui Angkatan Daratmembutuhkan banyak hal, termasuk perangkat komunikasi, senjata, kendaraan,obat-obatan, dan lain sebagainya, Washington menyatakan kesediaannya.
Akan tetapi, tidak ada bantuan yang gratis di jagat ini. Bahkan,pinjaman pada lintah darat pun masih disebut bantuan. Demikian pula pejabat tinggi di Washington, dengan alasan ada proses yang harus dilalui, maka tidaksesegera itu bisa mengirim bantuan. Masa menunggu itu dimanfaatkan agen-agen CIA menyuntikkan racun dalam kesadaran pimpinan angkatan darat, mengenai perlunya menumpas habis PKI dan simpatisannya.
Memang ditampilkan ada keragu-raguan apakah nantinya akan ada perubahan politik luar negeri pasca G30S. AS ingin mendengar jawaban pasti.Apalagi ada kecurigaan Jenderal Nasution akan tetap loyal pada Bung Karno, sesuai konstitusi. Namun, semua khawatiran itu berhasil ditembus Adam Malik, yang juga mendapat dana Rp 50 juta dari Marshall Green. Dana ini digunakanuntuk kampanye menumpas PKI.
Adam Malik meyakinkan AS, Jenderal Soeharto mendapat dukungan semua pihak, khususnya Angkatan Darat. Di lain kesempatan, Adam Malik mengatakan, Jenderal
Soeharto memahami apa yang kita (baca: AS) inginkan.
Hiruk-pikuk pembantaian PKI hampir setiap hari dilaporkan keWashington. Laporan dari missionaris Katolik di Kediri menyebut 3.000 orangtewas dibantai pada November 1965. Di Bali, persaingan PNI-PKI serta dendampara bangsawan yang dirampas tanahnya, telah membuat Pulau Dewata banjir darahdengan korban 80.000 jiwa manusia yang diduga anggota atau simpatisan PKI. Kedubes AS tidak mau ketinggalan pesta darah ini, denganmenyerahkan daftar nama ribuan kader PKI. Walaupun tidak disebutkan secararinci dalam buku tersebut, jauh sebelumnya wartawati Cathy Kadane sudah mengungkap peristiwa ini. Menurut Kathy, daftar nama tersebut diserahkan Edward Master, Kepala
Seksi Politik Kedubes AS di Jakarta, kepada sekretaris Adam Malik, yang selanjutnya disampaikan ke markas Soeharto di Kostrad.
Dalam tulisan Cathy dari hasil wawancara dengan staf Kedubes AS masa itu, termasuk dengan Asisten Direktur CIA untuk Timur Jauh, William Colby, diakui bahwa daftar nama itu sangat membantu Angkatan Darat dalam menumpas PKI dan simpatisannya.
Cathy juga mengutip salah seorang staf Kedubes AS yang datang keKostrad dan melihat begitu banyak manusia yang menjadi tahanan, dan bertanya pada Soeharto tentang proses hukumnya. Jawabnya singkat, siapa nantinya yang akan memberi makan mereka? Ini artinya semua tawanan itu akan dibunuh.
Hal lain yang membuat buku ini agak aneh, penjelasan Marshall Green yang isinya kurang lebih membantah pihaknya pernah membantu peralatan komunikasi kepada Angkatan Darat ketika peristiwa itu terjadi. Sama seperti daftar nama kader PKI di atas yang disebut diserahkan oleh staf kedutaan atas inisiatif pribadi, maka hampir mirip dengan itu pula dalam kasus peralatan komunikasi.
Green mengatakan dalam radiogramnya ke Deplu, benar bahwa staf kedutaan menyerahkan 3 unit radio komunikasi Motorola berikut charger baterainya. Para jenderal membutuhkannya untuk berkomunikasi. Dengan demikian ini tidak beda dengan handy-talky. Padahal, masih menurut pengusutan Cathy, hanya beberapa hari setelah peristiwa
G30S, seperangkat alat komunikasi modern yang tercanggih masa itu, telah diterbangkan dengan pesawat Hercules dari pangkalan militer AS di Filipina, dengan tujuan Jakarta. Antene alat komunikasi frekuensi tinggi itu tampak dipajang di depan Kostrad, markas Jenderal Soeharto.
Selain itu, menurut wartawati yang liputannya menghebohkan itu,sebuah kapal yang penuh muatan kendaraan jenis Jeep dan truk serta senjata,berangkat dari Subic, pangkalan angkatan laut AS di Filipina, menuju Jakarta.Dari informasi yang dihimpunnya diketahui, kendaraan dan senjata itu akan digunakan Angkatan Darat untuk menghancurkan PKI dan simpatisannya.
***
PKI berhasil dilumpuhkan. Tetapi, di sana masih ada Bung Karno dan Subandrio.Selama kedua tokoh itu ada, AS tidak mungkin tenang. Maka inilah yang dibisikkan Dubes Green pada Jenderal Soeharto. Kurang-lebih demikian, bola sudah di kaki Anda, persis di bibir gawang. Lantas apakah Anda akanmenyia-nyiakan peluang emas ini.
Soeharto yang dalam buku kontroversial itu disebut bertindak sangat hati-hati, sehingga terkesan lamban, sempat pula membuat gemas AS. Dalam kacamata AS, setelah pemakaman jenderal korban G-30-S pada tanggal 5 Oktober, seharusnya Angkatan Darat dapat segera bergerak. Tapi Soeharto tidak menghendaki konfrontasi langsung dengan Bung Karno. Keinginan AS akhirnya terkabul menjelang pertengahan Maret 1966,setelah
kabinet baru yang dibentuk masih memasukkan unsur-unsur kiri dan mendepak Jenderal Nasution dari jabatan menhankam. Mahasiswa turun ke jalan, mengepung istana. Sejumlah prajurit Angkatan Darat gabung dengan berpakaiansipil dan membawa senjata. Diteror oleh keadaan demikian, Bung Karno akhirnya memberikekuasaan bagi Jenderal Soeharto untuk bertindak mengamankan situasi dankeluarga presiden.
Dengan senjata Supersemar inilah Soeharto membubarkan PKI dan mengkonsolidasikan kekuasaan di tangannya. Pada bagian akhir sesi Indonesia di bawah judul ”The United States and Soeharto, April 1966-March 1968” setebal 150 halaman, AS ingin melihat bukti
komitmen pemerintahan Soeharto dengan mengakhiri politik konfrontasi terhadap
Malaysia. Selain itu AS juga tidak ingin Soekarno masih bercokol sebagai presiden, walaupun tanpa kekuasaan. Tidak kalah pentingnya adalah meninggalkan Tiongkok, yang selama ini mendominasi politik luar negeri RI. Semua keinginan negara adi kuasa itu dipenuhi Jenderal Soeharto.Konfrontasi berakhir, Kedubes RRC dibakar massa, dan Bung Karno mengundurkan diri dalam SI MPRS. Tetapi, di sini sama sekali tidak disebutkan pengunduran diri itu akibat tekanan dari Angkatan Darat, yang mengancam akan menyeret Soekarno ke pengadilan rakyat.
Halaman-halaman selanjutnya dipenui dengan arsip-arsip notulen rapat para pejabat tinggi Deplu, Dephan, Dewan Keamanan Nasional, dan asisten khusus presiden, berikut surat-menyurat di antara mereka dan telegram dari kedubes di Jakarta. Semua notulen rapat itu mengenai kesibukan menyiapkan bantuan bagi RI, sehingga mencerminkan “kemurahan dan kebaikan hati” Washington.
Dalam memorandum Wapres Humphrey kepada Presiden Lyndon B Johnson,25 September 1966, disebutkan ia baru saja bertemu Menlu Adam Malik di Sheraton Ritz Hotel, Minneapolis, AS. Dalam pembicaraan yang menyangkut bantuan apa saja dibutuhkan RI itu, Adam Malik tidak lupa menyampaikan pesan Jenderal Soeharto, mengenai kehadiran AS di Vietnam berakibat langsung atas terjadi perubahan di Indonesia.
Hal senada juga kembali diucapkan Jenderal Soeharto ketika Wapres Humphrey
berkunjung ke Indonesia, 4 November 1967. Bahwa hal itu atas arahan Dubes Green, tentu tidaklah penting dipersoalkan. Presiden Johnson sangat membutuhkan pernyataan itu untuk menyelamatkan pemerintahannya dari kecaman rakyat dan kemungkinan impeachment Kongres AS, berkaitan dengan keterlibatan dalam Perang Vietnam dan Laos.
Dalam memorandum dari Wakil Direktur CIA Richard Helms kepada Asisten Khusus Presiden Walt Rostow, tanggal 13 Mei 1966, disebutkan, Presiden Johnson memintanya untuk melakukan studi analisa yang menghubungkan langsung atau tidak langsung dampak kehadiran AS di Vietnam dan perubahan yang terjadi di Indonesia. “Kami tidak berhasil menemukan bukti-bukti ke arah itu….Sebab peristiwa kudeta yang terjadi di Indonesia tampaknya murni dari perkembangan situasi politik dalam negeri yang kompleks dan
berlangsung lama.” Akan tetapi, pengakuan Jenderal Soeharto menjadi senjata ampuh bagi Presiden Johnson membenarkan kebijakan keliru dalam intervensi militer di Vietnam.
Dengan menyebut berhasil merontokkan PKI, partai komunis kedua terbesar jumlah anggotanya di dunia, maka oposisi kehilangan semangat dan prakarsa untuk menentangnya.
Tidak mengherankan jika Presiden Johnson, begitu besar perhatiannya terhadap Indonesia. Bahkan ia ingin meningkatkan bantuan. Dalam sidang kabinet 17 Oktober 1967, Presiden Johnson mengatakan, “Undang DubesGreen untuk menyampaikan pikirannya di sini. Dubes menyarankan perlu bantuan 500 juta dollar AS bagi 110 juta penduduk RI.” Suatu angka yang waktu itu luar biasa besarnya, melampaui total ekspor Indonesia. Johnson menegaskan apa pun yang terjadi, AS harus membantu pemerintahan Orde Baru di saat kritis seperti sekarang. Semua lembaga internasional dan negara-negara maju dikoordinasikan membantu pemulihan ekonomi Indonesia. Seandainya mukzizat ekonomi lahir di sini, maka Indonesia akan menjadi contoh keunggulan demokrasi, sekaligus prestasi Presiden Johnson.
Sikap Johnson ini mendorong Deplu AS dan Dubes Green memusatkan perhatian menemukan instrumen terbaik untuk mempertahankan Orde Baru. Segala kelemahan dan keunggulannya dianalisa, kemudian dicari jalan keluar. Termasuk dalam hal ini orang-orang yang pas untuk bekerja sama dengan Soeharto, kemungkinan munculnya kekuatan-kekuatan tandingan, dan kombinasi pemerintahan militer seperti apa yang cocok di Indonesia. Deplu AS juga memikirkan pembentukan partai politik, seperti halnya di Korsel, yang didukung Angkatan Darat, bagi persiapan pemilu untuk memenangkan Soeharto.
Laporan Deplu di atas menjadi amat sangat ketinggalan dibanding apa yang sudah dibaca masyarakat di Indonesia. Upaya percobaan untuk melencengkan sejarah jenis ini sesungguhnya sudah dilakukan oleh Stig Aga Aandstad, “Surrending to Symbols: United States Policy Towards Indonesia 1961-1965,” dalam disertasi doktornya di University of Oslo, 1999. Ia berkesimpulan AS tidak tahu-menahu soal persiapan G-30-S. Buku dengan kesimpulan yang sama juga pernah diterbitkan CIA dalam membela diri.
Sikap pura-pura tidak tahu ini jelas bukan jawaban atas analisa Guy Pauker, tokoh dan otak CIA di Indonesia. Pada pertemuan dengan Wapres Humphrey dan stafnya tanggal 17 Februari 1967, Dubes Green mengulangi analisa Pauker bahwa hampir dapat dipastikan Indonesia akan jatuh ke tangan komunis tahun 1965. Dubes Green hanya sekadar mengutip sampai di situ. Padahal kesimpulan palsu demikian adalah bagian dari skenario besar, dan dimaksud memperuncing kecurigaan Angkatan Darat terhadap PKI. Terlebih lagi Bung Karno disebut-sebut mengidap ginjal kronis. Sebaliknya, PKI mendapat bocoran “dokument” rencana Angkatan Darat melakukan kudeta tanggal 5 Oktober.
Pauker sangat berperan di Seskoad. Dia sangat menentukan dalam mengirim 2.100 perwira menengah dan tinggi TNI-Polri belajar di AS selama periode 1960-1965. Pentolan utama G30S, termasuk Letkol Untung, pernah mengikuti pendidikan di AS. Maka menjadi sangat mencurigakan jika laporan Kedubes AS maupun CIA di Jakarta menyimpulkan, G30S melibatkan PKI, diskenariokan Menlu Subandrio dan diketahui Bung Karno. Apalagi disebut nama Letkol Untung tidak dikenal oleh Kedubes AS.
Laporan intelijen itu tidak pula menjelaskan tiga Batalyon Raiders, pasukan utama G30S, datang ke Jakarta atas radiogram PangkostradMayjen Soeharto. Sehari sebelum pecahnya tragedi tersebut Mayjen Soeharto menginspeksi pasukan ini. Di sini sejarah tidak akan pernah lempang. Apalagi ia dapat menjadi aib bagi bangsa yang memuja demokrasi dan hak asasi manusia. Negara adidaya seperti AS seyogyanya minta maaf kepada keluarga Bung Karno dan jutaan keluarga PKI. Bukan dengan menggelapkan fakta masa silam.
Seperti kerap dilakukannya pada negara lain, AS selayaknya pula memberi kompensasi bagi keluarga korban yang terkait dengan G30S. Bukan dengan mendorong militer dan elite politik Indonesia mengintimidasi rakyat yang sudah menderita 32 tahun di bawah Orde Baru, dengan cara meniupkan bahaya laten PKI.Atau sebaliknya, AS menyeret pelakunya-entah itu di Indonesia atau di negeri Paman Sam-ke Makamah Internasional.


Orde Baru Sebagai Boneka International Gangster Capitalism

Apakah orde baru adalah pemerintahan boneka buatan Amerika? Inilah pertanyaan yang muncul di benak saya ketika membaca buku yang ditulis oleh Geoff Simons berjudul Indonesia: The Long Oppression. (London: MacMillan/N.Y.: St. Martin, July 2000).

Sebagian besar dari uraian Simon tentang kekejaman regim militer dalam masa pemerintahan otoriter orde baru dalam buku setebal 304 halaman itu, bukanlah hal baru bagi masyarakat kita, yang secara dekat mengamati dan mengalami kekejaman system pemerintahan orde baru.

Sebagaimana terungkap dengan sangat jelas pada judul buku itu, uraian Simons membangkitkan kesadaran dunia internasional pada umumnya dan warga Indonesia pada khusunya akan sebuah bangsa yang membangun sejarahnya lewat suatu opresi yang sangat panjang. Sejarah nasional mencatat bahwa sejak Portugis mendarat di bumi pertiwi pada abad ke 16 hingga kejatuhan Soeharto pada akhir abad ke 20 ini, masyarakat kita hidup dalam situasi terjajah dari kekuatan opresif yang satu ke kekuatan opresif yang lain, dari kesadisan kolonialisme asing ke kesadisan kediktatoran penguasa bangsa sendiri (orde baru).

Orde baru memulai kekuasaannya dengan darah, menerapkan system kediktatorannya dengan darah, dan mengakhiri kekuasaannya juga dengan darah. Sampai pada akhirnya, orde baru menghantar kita pada babak baru sejarah yang Asvi Warman Adam (sejarahwan LIPI) sebut sebagai “sejarah korban” (Suara Pembaharuan, 3/11/2000).

Dibentengi oleh kekuatan penguasa asing, khususnya Amerika, Inggris, Australia dan Jepang, kelompok negara yang Simons sebut sebagai international gangster capitalism, penguasa orde baru terus menerapkan system opresi yang tak berperikemanusiaan atas rakyat bangsanya sendiri, demi interest imperialisme kooperatif gaya baru, yang beraksi atas nama agung “globalization”.

Menghadapi berbagai aksi opresi tak berperikemanusiaan selama masa pemerintahan orde baru, kelompok negara yang tergabung dalam international gangster capitalism itu berusaha untuk menghadirkan diri sebagai pahlawan yang ingin menyelamatkan bangsa Indonesia melalui kritikan serta berbagai ancaman embargo dan lain sebagainya. Tapi siapa harus mengeritik siapa?

Simons melukiskan bahwa Amerika, Inggris, Australia dan Jepang memainkan peran sentral dalam melahirkan figure yang tampil sebagai penguasa yang kejam selama masa pemerintahan orde baru. Lewat coup d’etat, Amerika telah menghantar Soeharto ke pucuk pimpinan orde baru. Amerika juga telah membesarkan ABRI yang setelah kejatuhan Soeharto dituduh sebagai kambing hitam atas semua aksi pemerkosaan nilai kemanusiaan di negara ini.

Simons menampilkan perspektif baru penemuan sejarah hasil penelitiannya sendiri untuk melengkapi sekaligus mempertegas kemiripan berbagai warna sejarah yang muncul sebelum dan sesudah kejatuhan orde baru. Sebelum kejatuhan Soeharto, transparansi sejarah orde baru sudah diungkapkan oleh beberapa ilmuwan asing.

Dalan artikel berjudul Lessons of the 1965 Indonesian Coup (1991), Terry Cavanagh melukiskan penemuan historis serupa. Cavanagh menulis, Kudeta berdarah di Indonesia merupakan hasil dari niat imperialisme AS untuk mendapatkan kontrol mutlak atas kekayaan alam dan sumber-sumber strategis dari kepulauan yang sering dinamakan 'Permata Asia' (jewel of Asia). Amerika yang sejak awal abad ke 20 telah menguasai eksploitasi minyak bumi (Caltex di Sumatera) dan karet di negeri ini, pasti tidak mau kehilangan interest ekonominya ketika PKI berhasil menguasai massa dan kaum buruh untuk berjuang melawan eksploitasi kaum borjuis asing (termasuk Amerika) yang pada waktu itu menguasai sebagian besar kekayaan alam di negari ini.

Amerika menyadari bahwa ancaman kekuatan massa terhadap interest ekonomi dan politiknya di bumi pertiwi ini hanya bisa dipatahkan dan dikuasai lewat pembentukan pemeritahan dictator yang dipimpin oleh kaum militer. Untuk itu bantuan finansial, penyediaan perlengkapan perang dan latihan bagi kaum militer Indonesia merupakan langkah konkrit Amerika untuk mempersiapkan apa yang kita kenal sebagai peristiwa penganyangan PKI. Cavanagh menulis, Kudeta di Indonesia tanggal 1-2 Oktober 1965 adalah hasil dari sebuah operasi yang sudah lama direncanakan secara hati-hati oleh CIA dan komandan-komandan militer TNI yang dilatih oleh AS.

Tentu saja keberhasilan Soeharto dan pasukannya menjalankan amanat CIA untuk melaksanakan holocaust pada tahun 1965, serta memulai babak baru pemerintahan dictator orde baru merupakan kemenangan bagi Amerika untuk menguasai eksploitasi kekayaan alam di negari ini. Cavanagh membenarkan kenyataan ini dengan melukiskan bahwa setelah kudeta 1965, kegunaan kediktatoran Soeharto bagi kepentingan imperialisme AS telah tergaris bawahi dalam laporan Departemen Luar Negeri AS ke Konggres AS pada tahun 1975.

Sementara itu, berdasarkan dokumen CIA dan wawancara langsung dengan para diplomat Amerika, khususnya Marshal Green, duta besar Amerika yang sangat berpengaruh selama masa penganyangan PKI, Mike Head, dalam artikelnya berjudul US Orchestrated Suharto 1965-66 Slaughter in Indonesia , - artikel yang dibagi atas tiga bagian dan dipublikasikan oleh World Socialist Web Site (WSWS edisi 19, 20 da 21 July 1999), - secara tranparant melukiskan keterlibatan diplomat Amerika dan CIA (agen rahasia Amerika), dalam keseluruhan proses penganyangan PKI and perencanaan pembentukan pemerintahan militer dibawah komando Soeharto.

Warna baru penulisan sejarah dari para ilmuwan sejarah asing ini tentu saja bukanlah sesuatu yang begitu mudah untuk segera dipercaya oleh nurani polos anak bangsa yang selama 32 tahun diindroktinasikan oleh kebenaran sejarah ala orde baru. Selama 32 tahun, kita telah diyakinkan bahwa penguasa orde baru adalah pahlawan yang telah menyelamatkan bangsa ini dari pengaruh komunis.

Tapi situasi politik setelah kejatuhan orde baru menunjukkan indikasi yang sangat kontras. Kenyataan yang ada memperlihatkan bahwa fugur-figur yang sekian lama dianggap sebagai pahlawan dan penyelamat bangsa, kini tidak lebih dari cuma seorang pengkianat bangsa. Penyembahan atas kesakralannya berubah menjadi caci-maki atas pengkianatannya.

Dengan meragukan sejarah nasional versi orde baru dan mengungkapkan transparansi sejarah versi baru, Simons, Mike dan Cavanangh menantang kita untuk secara kritis meninjau kembali kebenaran sejarah nasional dan melihat siapa melakukan apa kepada siapa dalam sejarah bangsa kita. Karena sebuah bangsa yang kuat dan reformasi yang sesungguhnya tidak akan bertahan kalau dibangun di atas kepalsuan sejarah.

Karena itu, kebenaran sejarah nasional harus ditulis kembali oleh anak-anak negeri ini. Karena mengungkapkan kebenaran sejarah adalah bagian utama dari proses reformasi itu sendiri. Kalau kebenaran sejarah tidak diungkapkan, maka selalu ada kemungkinan bahwa kita akan kembali ke tapak sejarah yang sama. Berpedoman pada sejarah nasional yang kabur, seorang pengkianatpun bisa dimitoskan sebagai seorang pahlawan.

Tentu saja, usaha untuk mengungkapkan kebenaran sejarah yang sesungguhnya bukan hal yang sangat mudah. Tapi harus disadari bahwa pemalsuan sejarah oleh penguasa yang otoriter bukanlah pengalaman historis yang secara eksklusif hanya terjadi dalam sejarah bangsa kita. Kalau kita mau memberikan sebuah contoh, sejarah Jepang di bawah Kaisar Showa bisa diangkat sebagai suatu perbandingan.

Di bawah kaisar Showa Jepang juga mengalami situasi represif yang mirip dengan situasi opresif seperti yang kita alami di bawah pemerintah orde baru. Selama Kaiser Showa masih menduduki kursi kekaiseran di Jepang, tidak ada orang yang berani mengungkapkan kebenaran sejarah sekitar tragedy perang yang diprakarsai oleh kaisar Showa selama perang dunia II di Asia dari tahun 1931 sampai tahun 1945. Malah setelah kematian kaisar Showa, Jepang membutuhkan 11 tahun lamanya untuk mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya dari aksi kesadisan sejarah dan mental kolonial Kaisar Showa terhadap bangsa-bangsa di Asia.

Di tengah krisis masa transisi, dimana bangsa berjalan di atas hukum yang borok dan dikomando oleh pemimpin yang membingungkan dan lemah kredibilitasnya, agak sulit bagi kita untuk menentukan secara pasti berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menulis kembali kebenaran sejarah bangsa ini. Tapi kesadaran bahwa sejarah ala orde baru adalah sejarah yang rapuh, palsu dan eksploitatif, harus menjadi awal yang memotivasi kita untuk segera menulis kembali sejarah bangsa dan membangun konstruksi sejarah yang benar dan kukuh bagi generasi mendatang.

Karena itu, warna baru dari transparansi sejarah orde baru yang kini ramai diungkapkan baik oleh sejarahwan dalam negeri maupun luar negeri, sebenarnya harus ditanggapi sebagai suara-suara kritis yang mengundang setiap manusia di negeri ini untuk membebaskan diri dari sikap terpaku pada kebanggaan hampa dan kekaguman murah atas kesadisan drama politik yang diperagakan oleh international gangster capitalism,yang telah mengunakan kediktatoran orde baru untuk mengembangkan imperialisme kooperatif gaya baru dan mengeksploitasi kekayaan alam di bumi berlabel Jewel of Asia ini. Suara ingin merdeka yang terus diperdengarkan hingga saat ini di Aceh and Irian jaya mungkin harus dipahami sebagai reaksi ingin merdeka dari penerapan sistem imperialisme kooperatif yang memeras rakyat dan mengeksloitasi kekayaan alam di daerah itu.

Dalam konteks kedasadaran ini, reformasi, khususnya reformasi historis, harus menjadi awal dari usaha kita untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa bangsa kita bukan cuma boneka berlabel permata Asia (jewel of Asia). Inilah PR yang harus kita jinjing bersama untuk mengarungi arus dasyat globalisasi abad ke 21.

(Steven Mere, Mahasiswa Universitas Nanzan, Nagoya, Jepang) 1

selalu berfikir positif...

berfikir positif, dan semuanya akan baik-baik saja..

kemeja hijau ala hongkong boy..

Salah pilih kostum hari ini, bahan yg menyerap keringat membuat baju menjadi kecil..dengan badan yg sudah membesar serta tuntutan perut yg tidak dapat dikompromikan, membuat hari ini benar2 menyiksa untuk duduk berlama-lama..hiks!

my design processed

Written By Ariearmend on Sunday, August 14, 2011 | 5:48 AM

This is one of my design processed, when i create a house design for my portfolio.



terrorist

Written By Ariearmend on Friday, July 29, 2011 | 12:43 AM

If the person who killed 90+ people in Norway was Muslim, the Press would have declared him as a terrorist. For now though, he is just an 'Assailant ', 'Attacker' (Reuters), 'Gunman' (BBC, CNN & Al Jazeera). Looks like 'Terrorist ' is a name reserved for Muslims? The US Dept of State calls it an 'Act of Violence', Not an 'Act of Terrorism' . Share this status and let the world know. Stop the hypocrisy!

7 tips untuk menulis novel

Written By Ariearmend on Wednesday, July 20, 2011 | 4:56 PM

Apakah Anda selalu ingin menulis novel? Apakah Anda melihat cerita di kepala Anda, tetapi menemukan diri uncapable mendapatkan itu semua di atas kertas? Apakah Anda mulai menulis dan gembira kemudian mendapatkan pemadaman hampir sebelum Anda mulai?




Jika semuanya tampak besar mungkin saran berikut ini akan membantu Anda menjadi
lebih terorganisasi dan bentuk gagasan-gagasan pemula! Garis Besar Sebuah


1.Anda Perlu Beberapa orang mengatakan mereka dapat mulai menulis dan semuanya mengalir lancar dan merata untuk menjadi potongan yang sempurna. Jika Anda dapat menulis novel dengan cara ini, aku iri padamu. (Dan kau mungkin tidak perlu membaca artikel ini) Tetapi orang-orang yang paling perlu untuk membentuk ide-ide mereka dalam semacam outline. Ia tidak harus menyertakan setiap detail dari novel Anda, hanya kerangka. Dan Anda selalu dapat menambahkan dan memodifikasi sebagai Anda pergi bersama.


2. Point-of-View
Putuskan apa sudut pandang Anda akan digunakan dalam adegan tertentu dan mematuhinya.
Jangan langsung bolak-balik, itu membingungkan. Gunakan "omniscent" sudut pandang hemat
dan memiliki sejumlah karakter POV. Jangan pernah memberitahu POV dari tidak signifikan
karakter.


3. Dialog
Baca dialog secara keras. Apakah orang yang Anda kenal benar-benar berbicara seperti itu?


4. Drama Konsep
Bayangkan Anda menulis iklan pd kulit sampul untuk novel Anda. Dapatkah Anda jumlah semuanya hanya dalam beberapa kalimat? Jika tidak, Anda memerlukan konsep dramatis kuat.


5. Ketegangan & Eskalasi
Sebuah cerita yang baik membutuhkan konflik tetapi juga sama pentingnya bahwa konflik Anda meningkat. Anda harus membangun secara bertahap sampai ke tingkat kritis.


6. Show-Don't Tell
Ini tua mengatakan-tapi itu benar. Jika karakter marah, jangan hanya KATAKAN dia marah. Menaruh
nya dalam situasi yang akan membuat dia marah dan SHOW bagaimana dia bereaksi.


7. Jelas Kesalahan
Ini sebenarnya adalah salah satu yang paling penting. Tidak peduli seberapa besar Anda kata
program pemrosesan atau berapa kali Anda mengoreksi diri sendiri, Anda selalu dapatmengabaikankesalahan ejaan, kesalahan tata bahasa dan tanda baca yang salah. Anda harus memiliki seseorang yang sangat berkualitas dalam bahasa Inggris atau editor profesional mengoreksi pekerjaan Anda. Jika Anda tidak mengenal seseorang secara pribadi, Anda dapat mempekerjakanseseorang. Ini adalah bernilai baik harga.


Saya harap panduan ini akan membantu Anda sedikit perjalanan Anda untuk menulis yang sempurna
novel!

Ketika Malaikat dan Iblis Menjadi bosan Part : 3

Ketika Malaikat dan Iblis Menjadi Bosan
by Ariearmend

Honda Civicnya berhenti dengan cepat dari kecepat tinggi, menghempaskan kerikil-kerikil dijalanan tanpa aspal didaerah pedalaman Amman di Al Buwayda, terik matahari dapat mengalahkan suhu dalam mobilnya yang telah dipasang pendingin udara dengan suhu terendah yang dapat dicapai oleh Civic nya. Butir-butir keringat meluncur dengan deras, membasahi seluruh tubuh ramping dengan balutan katun hitam dan jeans lusuh yang membungkus dengan ketat. Dia merasa sangat menyesal dengan terbunuhnya Diana yang menyamar menjadi dirinya, rencananya sebagian besar meleset dan sebagian lagi telah berantakan. Yang dia perlukan saat ini kembali ke awal dari permasalahan-permasalahan yang ada sekarang ini.
Dengan gerakan yang sangat lincah dan cepat, Alexa mengemasinya tas nya yang ada dibangku belakang, mengambil dengan cepat kemudian membawanya keluar dari dalam mobil. Dari otot tangannya yang sedikit mengeras, dapat dipastikan isi tas tersebut cukup berat. Akan tetapi dengan kelincahan dan kecepatan seorang agen lapangan yang sudah terlatih selama bertahun-tahun, hal itu tidak menjadi penghalang baginya.
Rumah persembunyian itu tampak lengang, gagang pintu yang tampak sedikit berkarat dan kusam masih tampak seperti tiga tahun yang lalu ketika ia tinggalkan. Halaman tandus tak terawat juga masih seperti dulu, hanya saja debu-debu yang menempel pada kaca luar nampak semakin tebal. Ia ingat pertama kali ketika ia datang kerumah ini bersama ayahnya. Mungkin sebelas atau dua belas tahun yang lalu, pikirnya dalam hati. Dan tempat ini tidak pernah berubah banyak, hanya menjadi tempat persinggahan bila ia dan ayahnya datang ke Amman. Dan kali ini kedatangan dia ke Amman hanya untuk singgah beberapa hari ditempat ini. Tempat yang pernah menjadi semacam surga dunia baginya, sebelum segala kebenaran akan rumah ini terungkap.
Langkah kakinya cepat tanpa halangan, seperti seorang tentara yang dengan sigap mendekati mangsa, perlahan tapi pasti. Anak tangga ia tapaki satu persatu, bunyi decit gesekan kayu dan batu yang sudah saling lapuk tidak dapat terhindari. Dan ia menyesal telah melakukan kesalahan tersebut, biasanya dia sangat mengontrol sekali beban pijakan pada kakinya, sehingga beban seperti apa pun, dan medan seperti apapun, dia dapat berjalan tanpa suara. Akan tetapi keyakinannya akan keamanan rumah ini membuat insting dan refleknya sedikit lepas, tidak akan pernah ada yang tahu akan keberadaan tempat ini pikirnya untuk memberi pembelaan atas kesalahan kecilnya. Dan perbaikan akan kesalahannnya itu dia bayar ketika akan membuka knop pintu dan mengeser daun pintu kedalam. Instingnya mengatakan bahwa pintu tersebut akan berdenyit. Akan tetapi sebagai seorang agen yang terlatih, dia dapat menghilangkan bunyi tersebut dengan sedikit mengangkat daun pintu tersebut ketika membuka. Dan menutupnya lagi dengan perlahan. Sebuah kehati-hatian yang sebenarnya tidak perlu, seru satu sisi batinnya... dan satu sisi yang lain hanya tertawa mengiyakan.
Masih seperti dulu, pandangnya mengeliling. Dengan kain-kain putih, semua furnitur tertutup dengan rapih, hanya saja tumpukan debu yang sedikit tebal, tidak dapat membohingi keadaan bahwa ruangan tersebut telah lama tidak ditinggali oleh sang penghuni untuk sekian waktu. Bangunan sederhana khas timur tengah tersebut masih tetap kokoh, dengan interior yang tidak jauh berbeda dengan sentuhan bangunan luarnya. Tembok-tembok kasar dengan permainan bata merah sebagai penghias ruangan, masih tetap sama ketika ayahnya membeli rumah ini dari seorang pasangan Turki yang akan kembali kenegaranya pada waktu itu. Hanya saja tanpa sepengetahuan Alexa dan Mama, Ayah telah merubah sesuatu yang sangat vital pada rumah tersebut. Sebuah ruang bawah tanah, yang berisi peralatan tempur, penyimpanan senjata otomatis, peluru-peluru dalam berbagai ukuran serta bahan baku peledak, yang dengan kemampuannya kini semua itu dapat ia rangkai dan rakit menjadi bom. Baik dengan sekala ledak ringan, bahkan hingga berdaya ledak tinggi. Seperti yang meledakan Diana yang menyamar menjadi dirinya beberapa saat yang lalu. Kesedihannya kembali menyusupi rongga-rongga batinnya. Hatinya yang selama ini beku kembali mencair. Penolakannya terhadap ideom yang selalu di serukan kedalam nuraninya lah yang membuatnya berada disini pada saat ini.
Dengan langkah perlahan ia melangkah menuju ruang kamar pribadinya yang berada di sebelah kiri dari ruang utama, sedangkan dulu orang tuanya tinggal di ruang kamar yang berada disebelah kanan. Meskipun ruangan ini secara keseluruhan masih menyerupai aslinya, ayahnya telah memodifikasi interiornya disana-sini, agar nyaman bagi mereka, ketika ia, ayah dan ibunya datang berkunjung kerumah ini.
Ketika seseorang baru masuk kedalam rumah ini, akan langsung dihadapkan dengan ruang utama keluarga yang juga berfungsi sebagai living room, dengan sebuah pantry disebelah kanannya. Di ujung ruangan sebelah kanan dan kiri adalah gate way atau jalan masuk untuk menuju kamar-kamar, yang masing-masing memiliki 2 buah kamar. Disebelah kanan dipergunakan oleh orang tuanya sebagai kamar tidur dan ruang kerja, sedang disebelah kiri dipergunakan oleh dirinya sebagai kamar tidur, dan kamar satunya hanya dibiarkan kosong, sesekali dipergunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang seperti koper dan sebagainya ketika mereka baru tiba. Selebihnya selalu dibiarkan kosong. Akan satu hal yang tidak ia ketahui sebelum ini adalah, ayahnya tidak hanya memodifikasi interior rumah tersebut, akan tetapi juga menambahkan beberapa bagian penting yang baru ia ketahui tidak lama sebelum kematian ayahnya. Sebuah ruang rahasia, ruang penyimpanan persenjataan dan perlengkapan tempur yang cukup lengkap. Dan bukan hanya ditempat ini saja, akan tetapi disemua tempat dan rumah persinggahan yang dimiliki oleh ayahnya. Dan itu berarti hampir diseluruh titik sudut kota didunia ayahnya memiliki tempat penyimpanan persenjataan seperti ini. Disemua kota-kota yang dia kenal, dan pernah kunjungi sebelumnya. Rumah-rumah, apartemen serta town house yang tersebar diseluruh dunia. Dan semua itu didanai oleh Mossad, untuk kepentingan Zionist dan kejayaan kaum terpilih. Sungguh lucu sekali, ketika dunia hingga kini berusaha tetap menghujat Hitler dengan Nazi nya yang menggagungkan Fasis dan kaum Aria, sedangkan untuk permasalahan ini mereka seolah tutup mata dan seolah-olah tidak melihat.
Penemuannya akan tempat rahasia itu diawali dari ketidak sengajaan, dia berusaha membersihkan semua kamar tidak lama setelah ayah meninggal, tidak terkecuali kamar yang selalu dibiarkan kosong tersebut. Ketika Alexa sedang membereskan barang-barang yang berada di wardrobe / tempat penyimpanan baju yang juga sebenarnya tidak terlalu banyak berisikan barang-barang, dia sempat merasakan hembusan ruang hampa dari arah dinding sebelah kiri ruang penyimpanan baju tersebut, nalurinya mempertanyakan hal tersebut, pendidikan militer dan intelejen yang selama ini jalani menuntut jawab atas pertanyaan tersebut. Logikanya berusaha menggambarkan kembali denah rumah ini, kesadarannya memberikan jawaban bahwa sisi tersebut adalah tembok masif sebelum dilapis playwood, akan tetapi instingnya berkata lain, “Apabila dinding tersebut masif, tidak akan mungkin ada hembusan..” kemudian refleks dia memeriksa sisi dinding tempat penyimpanan tersebut, dan setelah dipastikan dinding tersebut dapat digerakan dan memiliki jarang ruang, Alexa berusaha mencari cara untuk menggeser, membuka atau mengangkat sisi tembok tersebut. Hampir satu jam yang penuh tantangan dia berfikir keras dan mencari-cari kemungkinan-kemungkinan itu. Kekalahannya berusaha menghibur dirinya, bahwa secara konstruksi mungkin aja dibuat sedikit jarak ruang antara dinding dan playwood untuk menghindari lembab dan sebagainya. Akan tetapi kecurigaannya tidak dapat menerima penjelasan yang masuk akal tersebut dari kekalahannya. Dan ketika kedua rasa itu sedang bertarung memperebutkan posisi kebenaran dalam batinya, tanpa sengaja Alexa meraih tiang panjang melintang yang berfungsi sebagai alat gantung baju yang ingin digantung. Karena gerakannya yang tiba dan secara mendadak, pegangannya pada tiang tersebut tidak sepenuhnya kuat. Dan dia kembali terjatuh, dengan refleks dia berusaha mencengkram lebih kuat. Gerakan tesebut membuat membuat tiang berputar pada sumbunya disetiap sudut, dan menggerakan sebuah mekanisme. Dan bunyi “klik” halus yang hampir saja tidak terdengar, membuat kecurigaan menjerit penuh kemenangan karena merasa mendapat darah segar untuk melanjutkan kehidupannya kembali. Alexa mencari sumber suara tersebut dengan menempelkan daun telinganya ke arah sisi tembok tersebut, mendorong sedikit. Masih tetap seperti sedia kala, tidak bergeser dan tidak ada perubahan, kekalahan menari-nari melecehkan dengan senyuman yang sangat menjijikan, akan tetapi kecurigaannya tidak pernah mau mengalah. Dia kembali mencari-cari lagi. Ia genggam tiang tersebut. Kedang penuh keyakinan kembali dia putar tiang tersebut, dan sekali lagi dia mendapatkan suara “klik” halus hampir tak terdengar. Alexa kembali berusaha menggeser, tetap tidak ada perubahan. Senyum kekalahan semakin menjijikan. Diulangi sekali lagi memutar tiang tersebut, sedetik setelah tiang tersebut berputar, sisi tembok tersebut bergerak dan membuka kedalam. Kekalahan mati merlimang darah, sementara kecurigaan berdiri dengan mengangkat kedua tangannya menjadi sang pemenang dengan menghujamkan senjatanya tepat didenyut kehidupan kekalahan. Sisi tembok tersebut bergeser dengan memberikan hembusan kelembaban. Dengan sedikit tenaga Alexa menggeser tembok yang berfungsi sebagai pintu masuk tersebut. Pada sisi kiri, dua puluh senti meter dari pintu masuk dia melihat sebuat tombol, dia berasumsi tombol tersebut sebagai tombol untuk menyalahkan lampu yang dia lihat diatas dan disetiap sisi tangga menurun kedalam ruang rahasia tersebut. Kakinya menapak setiap anak tangga tersebut menurun kebawah, tangannya menekan tombol tersebut, sekejab tangga masuk tersebut dibalut dengan cahaya LED memanjang disetiap sisi tangga, putih kebiruan. Sekitar 3 meter kebawah dia melihat sebuah pintu, dengan kunci elektronik. Dia tersenyum tipis, membuka kunci elektronik seperti ini bagi dirinya bukan merupakan hal yang sulit, akan tetapi tidak ada salahnya memberi dirinya sedikit kesenangan dengan berusaha menebak apa yang menjadi jawaban dari kunci elektronik tersebut. “Toh, bila semua tebakannya salah, dia masih bisa mempergunakan encoder portable yang ada ditravel kit yang selalu dia bawa didalam tas nya diatas.” Pikirnya pada saat itu.
“Ok.. dari mana kita mulai” lirihnya.
Ayah selalu tergila-gila dengan angka, diruang kosong kunci elektronik ini ada sembilan ruang kosong untuk dimasukan angka. Dan sembilan sepertinya urutan sempurna untuk bentuk angka piramida. “oke, bagaimana bila kita mulai dengan urutan aritmatika, seperti tidak ada salahnya memulai dengan urutan ini..” dengan suara perlahan yang mungkin hanya dia sendiri yang dapat mendengarkannya. Perlahan dia memasukan angka-angka, 1, 4, 7, 1, 0, 1, 3, 1, 6. Kemudian dia menekan tombol unlock. Sedetik itu pula lengkingan halus dengan lampu berwarna merah menyalah, tanda ia telah memasukan urutan angka-angka yang salah.
“Hmmm.. ok, itu tadi menyenangkan, senyumnya..”
“Ok, bila angka aritmatika tidak berpengaruh, tidak ada salahnya mencoba urutan angka geometric..”
Kembali dia memasukan angka-angka, 2, 4, 8, 1, 6, 3, 2, 6, 4. Kemudian dia menekan tombol unlock. Sedetik itu pula lengkingan halus dengan lampu berwarna merah menyalah kembali, tanda ia telah memasukan urutan angka-angka yang salah.
Kegusaran merasupi dirinya. Akan tetapi dia masih belum mau merasa kalah.
“Ok, kita coba urutan Fibonacci..” serunya dengan jauh lebih bersemangat.
“Hmmm.. ini sedikit konyol..”, pikirnya dalam hati. “Fibonacci terlalu pasaran, berjuta orang semakin banyak yang tahu urutan angka ini semenjak novel yang ditulis oleh seseorang tentang konspirasi itu meledak dipasaran. Akan tetapi.. tidak ada salahnya untuk sekedar mencoba.”
Perlahan dia memasukan angka-angka, 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 1, 3. Kemudian dia menekan tombol unlock. Sedetik itu pula lengkingan halus dengan lampu berwarna merah menyalah kembali, tanda ia telah memasukan urutan angka-angka yang salah.
Kegusarannya memuncak, aliran kekesalan mulai menjalar keseluruh nadinya. Pilihannya dua, dia tetap menebak-nebak sampai akhirnya dia tidak menemukan jawabannya, atau dia mempergunakan portable encoder yang dia miliki, dan menghilangkan semua kesenangan yang ada. Toh dia tidak terburu-buru, tidak ada yang mengejarnya pada saat ini, dan ini bukan misi rahasia yang harus diselesaikan dalam hitungan detik, jadi tidak ada salahnya bagi dia untuk sedikit meluangkan waktu untuk menebak-nebak. Akan tetapi, sebuah tebakan yang akurat lebih baik baginya saat ini.
Pikirannya memeras setiap kemungkinan yang ada. Mencoba mengingat setiap perkataan ayahnya. Dia melakukan olah kepribadian kepada ayahnya untuk mengungkap sebuah kebiasaan.
Ingatannya berusaha membuka kembali setiap lembar perjalanan hari bersama sang ayah. Setiap perkataan yang patut di garis bawahi, setiap kekaguman, bahkan setiap ide-ide yang berhubungan dengan angka-angka. “Ada kemungkinan ayah mempergunakan nama ku atau nama ibu yang kemudian di konversi ke angka?” tanyanya kepada dirinya sendiri. Akan tetapi kesadarannya yang lain menolaknya, karena bila ia mempergunakan nama panggilannya, itu akan terlalu pendek. Dan bila mempergunakan nama lengkapnya, itu akan terlalu panjang. Lebih dari sembilan karakter. Dan itu juga berlaku untuk ibu. Bahkan nama ayah sekali pun.
Ditengah keasikannya memecahkan teka-teki yang yang ada, ada satu hal yang selalu berulang dalam pengkajian karakter ayahnya. Bahkan dalam setiap perkataan dan tingkah lakunya. Kebanggaannya terhadap ras Yahudi sebagai ras terpilih yang tidak ada batasannya. Hal yang selalu ada, disetiap putaran pengkajian karakter yang ia lakukan. “Tapi apa hubungannya dengan angka-angka ini?” batinnya. Mungkin tidak ada sama sekali, tapi sesuatu mengganggunya, dan berusaha menariknya untuk menyelidiki lebih jauh. “Ok, untuk menyenangkan mu, aku akan berfikir lebih untuk ini..” serunya kepada dirinya sendiri. Dengan menghilangkan kata-kata yang tidak bermakna, ia kemudian menggaris bawahi beberapa kata. Yahudi, terpilih, tak ada berbatas. “Hmmm... “ kerut dikeningnya terlihat jelas.
“Meskipun aku mengganti kata Yahudi dalam bahasa Ibrani, dan menggantinya dengan unsur angka-angka, karena setiap abjad dalam karakter Ibrani mengandung unsur angka seperti karakter penulisan dalam Romawi, jumlahnya masih terlalu pendek, dan tidak berjumlah sembilan karakter.” Lirihnya.
“Hmmmm... bangaimana dengan tak terbatas?” Tanya nya kepada dirinya sendiri. “Apa yang berhubungan dengan tak terbatas ini?”
“Tunggu dulu..” serunya lirih kepada dirinya sendiri. “ bila aku menghubungkan tak terbatas dengan matematika dan angka, pada matematika ada sebuah bentuk yang menyerupai sebuah angka..tapi bentuknya seperti apa yah? Lanjutnya lagi, seraya bertanya kepada dirinya. Karena matematika bukan merupakan bidang yang sangat dia kuasai. Sejenak dia berusaha mengingat, akan tetapi kali ini dia memilih untuk menyerah dan bertanya kepada telepon genggam nya. Dikeluarkan iPhone nya dari saku belakangnya. Membuka aplikasi pencarian, kemudian melakukan pencarian dengan kata kunci Infinity Symbol. Sedetik kemudian senyumnya mengembang, tarikan nafas lega terlihat diraut mukanya. Dengan sangat jelas dia melihat angka itu. Ayahnya sangat suka dengan angka ini, disetiap sudut kehidupan angka ini selalu ada dalam keseharian ayahnya. Mulai dari nomor telepon selulernya, bahkan hingga nomor rumah mereka. Belum lagi nomor-nomor kendaraan atau nomor penting lainnya yang selalu memiliki unsur angka ini didalamnya. Dan Alexa mengerutu kepada dirinya, kenapa hal ini biasa sampai terlewat dalam analisa tentang ayahnya.
Dengan mantap dia memasukan angka tersebut kedalam sembilan karakter kosong kunci elektronik tersebut. Pengulangan angka delapan sebanyak sembilan kali. Terlepas dari begitu banyak misteri yang ada pada angka delapan, bagi ayahnya angka ini melambangkan ketidak terbatasan.
Dan ruangan itupun terbuka, sesaat kemudian lampu penerang otomatis pada ruangan tersebut menyalah. Dengan sangat perlahan dia mendorong daun pintu tersebut dan melangkah masuk. Didalam ruangan yang tertata sangat rapih dan terkesan sangat modern dan high tech tersebut dengan ukuran sekitar 8x6 meter dengan tembok yang berbentuk panel-panel, sebuah meja panjang dengan 4 buah monitor LCD ukuran besar tersusun menjadi satu pada sisi terjauh dari ruang tersebut dengan sebuah kursi kerja dihadapannya, dan sebuah meja yang berada ditengah-tengah ruangan dengan sebuah kotak panel yang berada tepat ditengah-tengah meja tersebut.
Hembusan pengatur sirkulasi udara didalam ruangan tersebut telah otomatis menyalah ketika pintu masuk tersebut terbuka beberapa saat yang lalu, Alexa menyadari hal tersebut ketika dia merasakan usapan lembut udara dingin yang bergerak perlahan dan sebagian lagi menarik hawa hampa yang tersisa dari dalam ruangan yang telah sekian waktu tidak dimasuki oleh seorang pun semenjak ayah nya meninggal dunia.
Dia mendekati salah satu sisi tembok panel, mengusap tembok tersebut sebentar, mengetahui bahwa panel-panel tersebut adalah lemari-lemari penyimpanan, kemudian membukanya. Rasa terkejut dan kagum bersatu pada saat itu, ia bukan dirinya yang sekarang pada waktu itu, ideologi yang selalu ditanamkan kepadanya masih menancap kuat pada dirinya. Terkejut karena sedkitpun ayahnya tidak pernah memberitahukannya akan tempat ini, kagum karena ayahnya telah meninggalkan kepadanya sesuatu yang sangat berharga untuknya dan untuk perjuangan.
Dengan sigap dia membuka semua panel yang ada pada sisi tembok, sesaat kemudian Alexa dapat melihat senjata dalam berbagai macam jenis. Dari yang berjenis senjata genggam, senjata buru sergap, senjata jenis pengintai, detonator peledak dari berbagai jenis serta bahan peledak dari berbagai macam jenis.
Tangannya meraih sebuah McMillan TAC-308 (McMillan Tactical Rifle) sejenis senjata pengintai dan buru sergap, mengecek kondisinya,mekanismenya, dan ketepatannya tanpa peluru didalamnya, kemudian meraih pelatuknya “tap..” sempurna, pikirnya. Diletakan kembali senjata tersebut ketempatnya, badannya berputar melihat semua koleksi senjata tersebut, dia dapat melihat Glock 29, Glock 39, Beretta Px4 Storm, Fort-12, CZ 110, Heckler & Koch P30, Kel-Tec PLR-16, MP7, Ruger SR, Ruger P, Walther PPS, Walther PPK, Caracal F, Accuracy International AW50, Accuracy International L115, Accuracy International L96, Barrett M107, CheyTac Intervention, Dragunov SVD, FR F2, Harris / McMillan M86, Heckler & Koch HK PSG-1, Heckler & Koch HK XM8, M110 SASS, Mk 14, M16, M4, AR15, AK47, Tavor 21, MP5, Steyr AUG, Heckler & Koch HK-416, Barret REC7, FAMAS, L85A2, G36 dan beberapa jenis senjata yang dia tidak ketahui, tumpukan kotak yang sepertinya peluru, boks magazine senjata, beberapa detonator dalam berbagai macam ukuran serta beberapa RPG. Di beberapa bagian area penyimpanan, dia juga melihat rompi anti peluru serta beberapa perlengkapan tempur lainnya. Hati nya sangat gembira.

Tetapi kegembiraannya yang dulu, tidak pernah terpancar lagi sekarang. Setiap kali ia memasuki ruang-ruang penyimpanan tersebut seolah-olah belati tajam menyayat hati nuraninya. Suara-suara jeritan pilu serta teriakan-teriakan yang menyayat warga Palestina serta aktivis muslim diseluruh dunia yang di hilangkan, diculik seta dibunuh atas nama Kejayaan Zionis membuat dirinya tidak biasa lagi menerima itu semua.

Alexa membereskan semua peralatannya, diambil tas hitam nya dari sofa setelah istirahat sejenak semenjak kedatangannya tadi beberapa menit yang lalu, melangkah menuju kulkas yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, perlahan dia membuka daun pintu tempat pendingin tersebut, mengambil sebuah jus buah dalam kotak kardus yang dia simpat didalam nya beberapa hari yang lalu diawal ketibaanya di Jordania, kemudian menuju lemari pantry, perlahan membuka penutupnya dan mengambil sebuah mug, menutup kembali dan melangkah menuju kamar yang menjadi akses masuk ruang penyimpanan rahasia.

Ruang penyimpanan ini masih seperti dulu, ketika pertama kali ia mamasukinya, tidak banyak yang berubah dan tidak banyak juga yang berkurang. Senjata dan peralatan tempur tersebut masih tersimpan dengan rapih karena selama ini, ketika ia diharuskan berada di Jordania tidak terlalu banyak yang dia pergunakan untuk misi-misinya.

Tas hitamnya dia letakan perlahan diatas meja ditengah ruangan tersebut, perlahan dia membuka tasnya dan mengeluarkan satu persatu isinya. Diletakan kembali M110 SASS ketempatnya semula, magazine-magazine yang tidak terpakai kedalam kotak penyimpanan peluru, sebuah Barrett M107 ketempat penyimpanan pada panel-panel tempatnya berada. Akan tetapi dia masih menyimpan glock 17, dan memisahkannya pada sisi meja tengah tersebut. Dengan cekatan dia menuju ketempat penyimpanan peluru 9mm dan magazine kosong, akan tetapi langkahnya terhenti ketika hati kecilnya menolak langkahnya karena extra peluru tidak terlalu diperlukan untuk saat ini, toh nanti dibandara Charles de Gaulle dia biasa mendapatkan kembali amunisi untuk senjata bawaannya. Karena selain ditempat persembunyian dan rumah singgah seperti ini, ayahnya juga memiliki banyak tempat penyimpanan rahasia, yang mungkin jumlahnya tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk menjalankan operasi atau untuk sekedar bertahan hidup bila dibutuhkan. Selain senjata, ditempat-tempat tersebut juga terdapat uang cash dalam beragam jenis mata uang, akan tetapi umumnya saat ini hanya tinggal Euro, Ponsterling atau US Dollar saja, meskipun dibeberapa tempat rahasia kadang dia menemukan uang-uang lama penggilan negara-negara eropa sebelum menjadi satu mata uang, peninggalan ayahnya waktu itu. Semua ini ia ketahui dari list yang dibuat ayahnya pada catatan logistik yang dimiliki ayahnya pada komputer yang terdapat diruangan ini. Satu station komputer saling berhubungan dengan semua komputer yang ada disemua rumah aman tempat singgah yang hampir semuanya Ia tahu lokasinya, dan sebagian lagi Ia tahu setelah melihat catatan logistik ini.

Sebenarnya dia juga tidak terlalu membutuhkan senjata ini, hanya saja untuk sekedar berjaga-jaga hingga nanti sampai kebandara. Setelah mengeluarkan semua barang-barang yang tidak diperlukan dan barang terakhir yang dikeluarkan adalah rompi tipis anti peluru berbahan Kevlar dengan teknologi terkini yang dibuat dan dikembangkan oleh Mossad khusus hanya untuk agen-agennya, Alexa melipat dengan rapi tas tersebut dan meletakannya kedalam panel penyimpanan. Setelah bertimbang sesaat Ia memutuskan untuk tetap membawa rompi Kevlar tersebut. Setalah membereskan semuanya, ia mulai mempersiapkan barang bawaan yang akan dibawanya untuk perjalanan lanjutannya setelah ini. Mossad telah berfikir dia telah mati, akan tetapi ada tim lain yang dia tidak ketahui siapa pada saat ledakan terjadi. Dan mereka telah membawa tubuh Diana yang menyamar menjadi dirinya. Dan dari gerak-geriknya tim tersebut telah memperhitungkan banyak hal, dan beruntung dirinya telah meletakan alat pemancar mini pada ikat pinggang Diana sebelum mereka berpisah di Singapura dua hari yang lalu. Dan dari alat pemantau mini yang berbentuk mirip seperti panel monitor mini dengan gambar peta dunia ditampilannya dan memiliki kalibrasi keakuratan sampai 5 meter lokasi, dia tahu Diana dibawa menuju landasan pacu kecil yang berada disebelah selatan Amman sekitar 100 kilometer kearah timur dari Queen Alia Airport. Dia tidak tahu dengan pasti kemana Diana akan dibawa, akan tetapi pada saat ini dia juga memiliki kepentingan yang jauh lebih besar, hilangnya Lukman setelah hubungan percintaan dengannya diketahui oleh Mossad terungkap membuat dirinya sangat khawatir. Dan menemukan Lukman pada saat ini menjadi prioritasnya yang utama. 

***

to be continue

Ketika Malaikat dan Iblis Menjadi bosan Part : 2

Ketika Malaikat dan Iblis Menjadi bosan
Part 2 
by Ariearmend
Mata Lukman sedikit tertutup, totot-otot matanya beristirahat untuk sementara waktu.. peluh mengalir dengan deras melalui dahi dan tungkuknya. Ingatannya manari-nari acak, dan memilih serta memilah kilatan memori mana yang ingin ditampilkan diingat pada saat itu. Bergerak secara kontemporer dan bebas, lambat laun keteracakan tersebut mulai melambat dan mulai menemukan bentuknya seiring dengan detak jantungnya yang mulai kembali normal. Pikirannya tenang, dan potongan ingatan tersebut mulai muncul ke permukaan.

Dia ingat gerbang itu, gerbang masuk pondok pesantren Al-Kalam disebuah desa di Jawa Tengah yang cukup jauh dari tempat tinggalnya di Jakarta. Dan bahkan meski ayahnya telah berulang kali bercerita untuk memasukannya ke pondok pesantren ini, hari itu dia tidak pernah duga akan datang juga. Hari dimana dia meninggalkan semua kehidupan yang dikenalnya, semua temannya, dan semua hari-hari rutinnya. Pada saat itu bila ia mengingat kembali, keinginan ayahnya lah yang membuatnya berada disini pada saat ini. Dan kalau boleh sedikit jujur, tingkat perekonomian keluarganya bisa dibilang mapan, dan kalau ayahnya mau menyekolahkan ke sekolah swasta mahal di Jakarta, itu bukan menjadi sebuah masalah. Akan tetapi pemikiran ayahnya yang sangat pragmatis membuatnya menjalani banyak warna dalam mengecap pendidikan dari sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama. Masa taman kanak-kanaknya di habiskan disebuah TK Islam yang tergolong mahal pada saat itu. Akan tetapi setelah TK, ayah malah memasukan ke sekolah dasar negeri yang SPP nya sekali pun tidak bayar sama sekali, ketika teman-teman semasa TK ku melanjutkan ke sekolah swasta yang katanya berkwalitas, aku menghabiskan masa sekolah dasarku seperti kebanyakan anak kecil lainnya. Akan tetapi waktu kosong setelah sekolah aku habiskan untuk melakukan pelajaran-pelajaran lain diluar sekolah, seperti banyak nya les-les bahasa yang harus aku jalani, serta les keterampilan musik selain les bimbingan belajar. Dan banyak dari teman les ku itu berasal dari sekolah swasta mahal di sekitar tempat tinggal ku. Dan baru jauh hari setelah aku mengerti banyak hal, ternyata ayah hanya ingin aku mengalami banyak hal dalam proses pendidikan, tidak monoton dan membosankan. Selain memberikan banyak pemahaman dan pengertian lain yang tidak dapat dijelaskan apabila aku tidak menjalaninya sendiri. Seperti memahami banyak karakter manusia dari lapis yang berbeda, sehingga hal itu mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi ku nantinya selain juga mendorong perkembangan psikologi yang jauh lebih luas serta kepekaan terhadap sosial.

Selepas sekolah dasar, ayah memasukan aku ke Al-Azhar, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal ku, sedangkan banyak dari teman-teman SD ku yang melanjutkan ke SMP negeri seperti kebanyakan orang. Dengan biaya masuk yang tidak bisa dibilang murah, dan biaya-biaya lainya yang serba wah setiap bulannya, aku menyelesaikan masa-masa SMP ku disana. Dengan beberapa kenalan muka lama semasa TK yang juga melanjutkan sekolah disana.

Ayahku mungkin sedikit ajaib, dengan kondisi yang bisa dibilang mampu pada saat itu, dia lebih memilih berkeliling dengan motor sedangkan teman-teman ku yang lain selalu diantar jemput dengan mobil. Meskipun aku tau, dirumah kita juga punya mobil yang mungkin bisa dibilang lebih bagus dari pada teman-teman ku ini. Ayah lebih senang naik motor, “lebih praktis..” jawabnya selalu. 

Serta ketika teman-teman ku selalu bercerita ketika libur sekolah mereka selalu jalan-jalan ke Singapura atau Hongkong untuk melihat Disney Land dan lain sebagainya, sedangkan aku ketika ayah sedang mengerjakan proyeknya di Eropa atau Timur Tengah, aku selalu diajak bersama ibu dan aku bisa ijin dari sekolah selama seminggu bahkan pernah sampai dua minggu hanya untuk menemani ayah bekerja. Dan selama itu, tidak pernah sekali pun kita menginap dihotel, karena disetiap negara yang kita kunjungi, ayah selalu memiliki tempat tinggal untuk kita semua. Flat yang tidak bisa dibilang sederhana, yang dibeli oleh ayah dan ibu ditempat-tempat itu. Aku dan Assa adik perempuanku sangat suka sekali apabila kita harus menemani ayah bekerja di luar negeri, karena kita bisa puas main seharian diluar rumah dengan mengajak ibu, selain melatih kemampuan bahasa asing yang selama ini kita pelajari kata ayah, juga bisa melihat banyak hal yang tidak bisa kita temui di Jakarta. Akan tetapi setelah kembali ke Jakarta ayah selalu melarang kami untuk bercerita dan memamerkan hal tersebut ke orang lain, ayah memilih untuk tetap rendah hati dan berlaku praktis.

Dan gerbang masuk pondok pesantren Al-Kalam ini sangat-sangat sederhana, dan bila mengingat semua yang harus aku tinggalkan dan mencoba sesuatu yang benar-benar baru disini, membuat pikiran ku bertabrakan satu sama lain, rasa gugup, malu, takut cemas dan lain sebagainya menyatu dalam remasan jemariku terhadap jemari tangan yang lain selain jantung ku yang berdetak tidak seperti biasanya. Karena meskipun tahu kalau selepas SMP aku akan melanjutkan kesebuah pesantren nantinya, tapi aku tidak pernah berfikir kalau sebuah pesantren akan sangat berbeda seperti ini. Dan perubahan yang harus dihadapi sangatlah besar.

Sepertinya ayah mengetahui kegundahan hatiku. Dengan sangat lembut dia merangkul diriku, dan mencium keningku untuk sekedar menenangkanku. Dengan mobil rental dari Jakarta, ayah mengantarkan ku beserta mama dan Assa. Sekali lagi, penampilan ayah dan mama sangat sederhana. Dengan kemeja yang sangat sederhana dan celana jeans yang sedah bisa dibilang kucel serta mama dengan kemeja terusan yang dipadu dengan kerudung warna pastel membuat kita dapat berbaur dengan mudah pada saat itu. Malah beberapa orang tua calon murid ada yang sangat menor dandanannya.. seperti mau syuting sinetron murahan pikir ku saat itu.

Proses administrasi harus dilakukan oleh orang tua calon murid atau pengantar dilokasi pesantren, disaat-saat menunggu, aku perhatikan orang lalu lalang, aku belum bisa membedakan siapa yang tamu dan siapa yang penghuni pesantren, dikarenakan banyaknya manusia yang ada pada saat itu. Dan kalo boleh jujur, aku lebih memilih pulang. Akan tetapi ada hati kecilku yang lain berusaha menerima semua kenyataan ini. Dan mencoba untuk beradaptasi, serta mulai menikmati setiap detak kehidupannya. 

Seorang anak yang menurutnya sebaya dengannya duduk disebahnya, disebuah bangku tunggu panjang yang sudah tidak dapat dibilang baru lagi, dengan lapisan kulit palsu yang mulai mengelupas disana sini. Matanya juga memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang, dari raut mukanya dia pun memiliki rasa gusar dan kegelisahan yang sama dengan ku. Hanya saja pada saat itu dia tidak menyadari, bahwa orang disebelahnya sedang memperhatikannya.

Seorang ibu-ibu dengan dandanan yang sangat berlebihan pikir ku saat itu, tanpa sengaja menyenggol bahu kiri ku, dan secara reflex aku juga bergerak ke kiri sehingga menyenggol bahu kiri anak kecil tersebut. Altaf, kemudian aku tahu namanya. Yang menjadi teman baik ku selama menempuh pendidikan di pondok pesantren ini. Altaf sosok anak yang cenderung tenang, dan sangat berbakat. Dia memiliki kecerdasan yang banyak orang tidak menyadarinya. Akan tetapi di awal-awal pertemanan kami, dia lebih banyak menutup diri, kurang ingin menceritakan kehidupan pribadinya, jauh berbeda dengan teman-teman sekelas yang lain, yang seolah-olah selalu ingin didengarkan keluh kesahnya. Sifat ketertutupan Altaf agak mirip dengan ku, itu yang membuat kita dapat cocok satu sama lain. Akan tetapi setelah setahun kita berada di pondok ini, sifat tertutupnya sedikit demi sedikit mulai terbuka.

Mata Lukman sedikit terbuka, perlahan kesadarannya mulai kembali. Tetesan keringat didahinya turun kemata, menyebabkan rasa perih. Perlahan dia berusaha mengusap matanya, akan tetapi tangannya terasa berat untuk digerakan. Sayup perlahan dia mendengar suara-suara dengan bahasa asing yang sangat familiar dikupingnya selama 2 tahun belakangan ini diruang sebelah. Langkah-langkah kaki yang bergerak cepat, serta gesekan suara magazine dengan senjata-senjata yang dimasukan kedalam tempatnya sebelum kemudian semua itu kabur, dan dia kembali kealam bawah sadar.

Sebuah hantaman keras mengembalikan kesadaran ku dengan sangat cepat, selain memberikan rasa sakit yang tiada tara. Rasa asin dibibirku menetes perlahan, kemudian jatuh kepinggiran kemeja lusuh yang aku kenakan. Ingatan akan dimana dan kapan serta apa yang terjadi perlahan dan berangsur pulih. Dalam sakit dan perih yang ku rasakan, tanpa sadar bibir ku nama Nya. Aku pasrahkan segala nasib dan keputusan kini dan nanti ku kepada Rabb ku, Allah semesta alam. Yang memberikan keputusan akan nasib dan takdir seorang manusia.

Sementara di luar bangunan disepanjang Rue Camille Chevillard, tidak ada satu orang pun yang curiga bahwa diarea perumahan yang tenang tersebut, salah satu rumah merupakan markas rahasia Mossad, dengan penyamaran yang sangat sempurna, karena bangunan utama diisi oleh sepasang agen rahasia yang berpura-pura menjadi pasangan suami istri. Akan tetapi dibawah bangunan tersebut merupakan markas yang memiliki fasilitas lengkap dengan ruangan penyimpanan persenjataan taktis yang lengkap, ruang-ruang tahanan dan penyiksaan selain ruang penyentara komputer yang super cepat. Disalah satu ruangan tersebut Lukman ditahan oleh agen-agen Mossad ini. Ingatannya yang baru saja pulih berusaha mengingat kembali apa saja yang telah terjadi sebelum Ia berada disini. Tapi “lagi-lagi sebuah pukulan membentur wajahnya. “Réveiller salope “ dengan diiringi hentakan yang sangat keras pada kerah bajunya.. dan sekali lagi sebuah tamparan menghantam mukanya. Dengan berjuta rasa kesakitan dan nyeri diseluruh tubuhnya, kesadarannya kembali pudar sebelum akhirnya benar-benar hilang sama sekali. “Vous n'avez pas besoin de ce genre contre lui sebuah suara wanita mengingatkan kepada temannya yang baru saja memberikan bogem mentah bertubi-tubi kepada Lukman.  “Dan sekarang dia kembali tidak sadarkan diri..” sambil berjalan perlahan dengan sangat anggun kearah meja konsol yang banyak menyimpan alat-alat penyiksaan diatasnya.

“Aku ingin dia kembali sadar dalam waktu kurang dari sejam, perlakukan dia dengan lebih baik” dengan berjalan kembali kearah tempatnya berdiri sebelumnya, setelah sebelumnya dia membalik-balikan sebuah alat pencabut kuku yang ada diatas meja konsol tadi.

“Oh iya, satu lagi.. perlu kalian ingat, orang ini bukan yang kita incar, jadi kalian tidak perlu menghajarnya terlalu berlebihan..” setelah mengucapkan kalimat terakhirnya tersebut, dia sendiri merasa heran, kenapa dia menaruh rasa khawatir yang begitu besar kepada orang ini. Sesuatu yang tidak pernah dia berikan kepada orang sebelumnya.

****

Setelah tim forensik selesai memeriksa dan mendata semua yang diperlukan untuk menyelidiki  kasus  pembunuhan yang terjadi kompleks perumahan Bishan Hills, jenazah Seamus dibawa menuju Changi General Hospital, dalam perjalanan sepasang mata yang tidak pernah lepas mengikuti gerak-gerik tim paramedik dari ketika memasukan jenazah kedalam ambulan hingga ambulan meninggalkan komplek perumahan, tatapan tajam tersebut selalu mengamati kondisi sekitarnya. Dan ketika ambulan tersebut tiba di perempatan jalan Eunos Crescent yang sepi, didaerah kawasan perindustrian dan gudang, sebuah ledakan yang cukup besar dari bawah ambulan tersebut menghempaskan ambulan tersebut tiga meter ke udara, sebelum akhirnya hancur berkeping-keping. Senyum tipis menghiasi wajahnya, perubahan wajah yang tidak dapat dia sembunyikan, dan ekspresi puas akan hasil kerjanya. Setelah memastikan semuanya hancur dari kejauhan, dan tidak ada yang dapat dilacak balik kepada dirinya, dia memutuskan untuk berbaur dengan kesibukan kendaraan lain, menuju PIE (Pan Island Expy / jalan Toll) dan meluncur kearah pusat kota dimana fase selanjutnya untuk menjalankan rencana-rencananya telah tersusun dengan rapih.
“Yah, telah rapih.. sangat rapih” batinnya
“Dan sekarang aku hanya perlu kembali ke Hotel, dan mengemasi semuanya...”

**** 
to be continue

The mysterious Russian girl Military Academy

Written By Ariearmend on Friday, April 8, 2011 | 8:11 AM

Into the mysterious Russian girl Military Academy (2)
Moscow ninth pre-officer boarding school, only recruits women students, offers disciplinary education of fifth grade to 11th grade, the students enroll in the 11-year-old, graduat in the 17-year-old (grant-order non-commissioned officers), then convergence of formal military University level (such as the Army University in Moscow…). The majority of enrollments are orphan girls, also accepted the application of excellent results.The tuition is the full burden of Russia, boarding type of woman childhood pre-school.

Into the mysterious Russian girl Military Academy (1) 

Into the mysterious Russian girl Military Academy (3) 

Into the mysterious Russian girl Military Academy (7) 

Into the mysterious Russian girl Military Academy (8) 

Into the mysterious Russian girl Military Academy (9) 

Into the mysterious Russian girl Military Academy (11)









 
Support : Creating Website | Arie Armend | dMEAD Campur
Copyright © 2011. everything and anything - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Arie Armend
Proudly powered by Premium Blogger Template