Home » » Ketika Malaikat dan Iblis Menjadi bosan Part : 3

Ketika Malaikat dan Iblis Menjadi bosan Part : 3

Written By Ariearmend on Wednesday, July 20, 2011 | 4:52 PM

Ketika Malaikat dan Iblis Menjadi Bosan
by Ariearmend

Honda Civicnya berhenti dengan cepat dari kecepat tinggi, menghempaskan kerikil-kerikil dijalanan tanpa aspal didaerah pedalaman Amman di Al Buwayda, terik matahari dapat mengalahkan suhu dalam mobilnya yang telah dipasang pendingin udara dengan suhu terendah yang dapat dicapai oleh Civic nya. Butir-butir keringat meluncur dengan deras, membasahi seluruh tubuh ramping dengan balutan katun hitam dan jeans lusuh yang membungkus dengan ketat. Dia merasa sangat menyesal dengan terbunuhnya Diana yang menyamar menjadi dirinya, rencananya sebagian besar meleset dan sebagian lagi telah berantakan. Yang dia perlukan saat ini kembali ke awal dari permasalahan-permasalahan yang ada sekarang ini.
Dengan gerakan yang sangat lincah dan cepat, Alexa mengemasinya tas nya yang ada dibangku belakang, mengambil dengan cepat kemudian membawanya keluar dari dalam mobil. Dari otot tangannya yang sedikit mengeras, dapat dipastikan isi tas tersebut cukup berat. Akan tetapi dengan kelincahan dan kecepatan seorang agen lapangan yang sudah terlatih selama bertahun-tahun, hal itu tidak menjadi penghalang baginya.
Rumah persembunyian itu tampak lengang, gagang pintu yang tampak sedikit berkarat dan kusam masih tampak seperti tiga tahun yang lalu ketika ia tinggalkan. Halaman tandus tak terawat juga masih seperti dulu, hanya saja debu-debu yang menempel pada kaca luar nampak semakin tebal. Ia ingat pertama kali ketika ia datang kerumah ini bersama ayahnya. Mungkin sebelas atau dua belas tahun yang lalu, pikirnya dalam hati. Dan tempat ini tidak pernah berubah banyak, hanya menjadi tempat persinggahan bila ia dan ayahnya datang ke Amman. Dan kali ini kedatangan dia ke Amman hanya untuk singgah beberapa hari ditempat ini. Tempat yang pernah menjadi semacam surga dunia baginya, sebelum segala kebenaran akan rumah ini terungkap.
Langkah kakinya cepat tanpa halangan, seperti seorang tentara yang dengan sigap mendekati mangsa, perlahan tapi pasti. Anak tangga ia tapaki satu persatu, bunyi decit gesekan kayu dan batu yang sudah saling lapuk tidak dapat terhindari. Dan ia menyesal telah melakukan kesalahan tersebut, biasanya dia sangat mengontrol sekali beban pijakan pada kakinya, sehingga beban seperti apa pun, dan medan seperti apapun, dia dapat berjalan tanpa suara. Akan tetapi keyakinannya akan keamanan rumah ini membuat insting dan refleknya sedikit lepas, tidak akan pernah ada yang tahu akan keberadaan tempat ini pikirnya untuk memberi pembelaan atas kesalahan kecilnya. Dan perbaikan akan kesalahannnya itu dia bayar ketika akan membuka knop pintu dan mengeser daun pintu kedalam. Instingnya mengatakan bahwa pintu tersebut akan berdenyit. Akan tetapi sebagai seorang agen yang terlatih, dia dapat menghilangkan bunyi tersebut dengan sedikit mengangkat daun pintu tersebut ketika membuka. Dan menutupnya lagi dengan perlahan. Sebuah kehati-hatian yang sebenarnya tidak perlu, seru satu sisi batinnya... dan satu sisi yang lain hanya tertawa mengiyakan.
Masih seperti dulu, pandangnya mengeliling. Dengan kain-kain putih, semua furnitur tertutup dengan rapih, hanya saja tumpukan debu yang sedikit tebal, tidak dapat membohingi keadaan bahwa ruangan tersebut telah lama tidak ditinggali oleh sang penghuni untuk sekian waktu. Bangunan sederhana khas timur tengah tersebut masih tetap kokoh, dengan interior yang tidak jauh berbeda dengan sentuhan bangunan luarnya. Tembok-tembok kasar dengan permainan bata merah sebagai penghias ruangan, masih tetap sama ketika ayahnya membeli rumah ini dari seorang pasangan Turki yang akan kembali kenegaranya pada waktu itu. Hanya saja tanpa sepengetahuan Alexa dan Mama, Ayah telah merubah sesuatu yang sangat vital pada rumah tersebut. Sebuah ruang bawah tanah, yang berisi peralatan tempur, penyimpanan senjata otomatis, peluru-peluru dalam berbagai ukuran serta bahan baku peledak, yang dengan kemampuannya kini semua itu dapat ia rangkai dan rakit menjadi bom. Baik dengan sekala ledak ringan, bahkan hingga berdaya ledak tinggi. Seperti yang meledakan Diana yang menyamar menjadi dirinya beberapa saat yang lalu. Kesedihannya kembali menyusupi rongga-rongga batinnya. Hatinya yang selama ini beku kembali mencair. Penolakannya terhadap ideom yang selalu di serukan kedalam nuraninya lah yang membuatnya berada disini pada saat ini.
Dengan langkah perlahan ia melangkah menuju ruang kamar pribadinya yang berada di sebelah kiri dari ruang utama, sedangkan dulu orang tuanya tinggal di ruang kamar yang berada disebelah kanan. Meskipun ruangan ini secara keseluruhan masih menyerupai aslinya, ayahnya telah memodifikasi interiornya disana-sini, agar nyaman bagi mereka, ketika ia, ayah dan ibunya datang berkunjung kerumah ini.
Ketika seseorang baru masuk kedalam rumah ini, akan langsung dihadapkan dengan ruang utama keluarga yang juga berfungsi sebagai living room, dengan sebuah pantry disebelah kanannya. Di ujung ruangan sebelah kanan dan kiri adalah gate way atau jalan masuk untuk menuju kamar-kamar, yang masing-masing memiliki 2 buah kamar. Disebelah kanan dipergunakan oleh orang tuanya sebagai kamar tidur dan ruang kerja, sedang disebelah kiri dipergunakan oleh dirinya sebagai kamar tidur, dan kamar satunya hanya dibiarkan kosong, sesekali dipergunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang seperti koper dan sebagainya ketika mereka baru tiba. Selebihnya selalu dibiarkan kosong. Akan satu hal yang tidak ia ketahui sebelum ini adalah, ayahnya tidak hanya memodifikasi interior rumah tersebut, akan tetapi juga menambahkan beberapa bagian penting yang baru ia ketahui tidak lama sebelum kematian ayahnya. Sebuah ruang rahasia, ruang penyimpanan persenjataan dan perlengkapan tempur yang cukup lengkap. Dan bukan hanya ditempat ini saja, akan tetapi disemua tempat dan rumah persinggahan yang dimiliki oleh ayahnya. Dan itu berarti hampir diseluruh titik sudut kota didunia ayahnya memiliki tempat penyimpanan persenjataan seperti ini. Disemua kota-kota yang dia kenal, dan pernah kunjungi sebelumnya. Rumah-rumah, apartemen serta town house yang tersebar diseluruh dunia. Dan semua itu didanai oleh Mossad, untuk kepentingan Zionist dan kejayaan kaum terpilih. Sungguh lucu sekali, ketika dunia hingga kini berusaha tetap menghujat Hitler dengan Nazi nya yang menggagungkan Fasis dan kaum Aria, sedangkan untuk permasalahan ini mereka seolah tutup mata dan seolah-olah tidak melihat.
Penemuannya akan tempat rahasia itu diawali dari ketidak sengajaan, dia berusaha membersihkan semua kamar tidak lama setelah ayah meninggal, tidak terkecuali kamar yang selalu dibiarkan kosong tersebut. Ketika Alexa sedang membereskan barang-barang yang berada di wardrobe / tempat penyimpanan baju yang juga sebenarnya tidak terlalu banyak berisikan barang-barang, dia sempat merasakan hembusan ruang hampa dari arah dinding sebelah kiri ruang penyimpanan baju tersebut, nalurinya mempertanyakan hal tersebut, pendidikan militer dan intelejen yang selama ini jalani menuntut jawab atas pertanyaan tersebut. Logikanya berusaha menggambarkan kembali denah rumah ini, kesadarannya memberikan jawaban bahwa sisi tersebut adalah tembok masif sebelum dilapis playwood, akan tetapi instingnya berkata lain, “Apabila dinding tersebut masif, tidak akan mungkin ada hembusan..” kemudian refleks dia memeriksa sisi dinding tempat penyimpanan tersebut, dan setelah dipastikan dinding tersebut dapat digerakan dan memiliki jarang ruang, Alexa berusaha mencari cara untuk menggeser, membuka atau mengangkat sisi tembok tersebut. Hampir satu jam yang penuh tantangan dia berfikir keras dan mencari-cari kemungkinan-kemungkinan itu. Kekalahannya berusaha menghibur dirinya, bahwa secara konstruksi mungkin aja dibuat sedikit jarak ruang antara dinding dan playwood untuk menghindari lembab dan sebagainya. Akan tetapi kecurigaannya tidak dapat menerima penjelasan yang masuk akal tersebut dari kekalahannya. Dan ketika kedua rasa itu sedang bertarung memperebutkan posisi kebenaran dalam batinya, tanpa sengaja Alexa meraih tiang panjang melintang yang berfungsi sebagai alat gantung baju yang ingin digantung. Karena gerakannya yang tiba dan secara mendadak, pegangannya pada tiang tersebut tidak sepenuhnya kuat. Dan dia kembali terjatuh, dengan refleks dia berusaha mencengkram lebih kuat. Gerakan tesebut membuat membuat tiang berputar pada sumbunya disetiap sudut, dan menggerakan sebuah mekanisme. Dan bunyi “klik” halus yang hampir saja tidak terdengar, membuat kecurigaan menjerit penuh kemenangan karena merasa mendapat darah segar untuk melanjutkan kehidupannya kembali. Alexa mencari sumber suara tersebut dengan menempelkan daun telinganya ke arah sisi tembok tersebut, mendorong sedikit. Masih tetap seperti sedia kala, tidak bergeser dan tidak ada perubahan, kekalahan menari-nari melecehkan dengan senyuman yang sangat menjijikan, akan tetapi kecurigaannya tidak pernah mau mengalah. Dia kembali mencari-cari lagi. Ia genggam tiang tersebut. Kedang penuh keyakinan kembali dia putar tiang tersebut, dan sekali lagi dia mendapatkan suara “klik” halus hampir tak terdengar. Alexa kembali berusaha menggeser, tetap tidak ada perubahan. Senyum kekalahan semakin menjijikan. Diulangi sekali lagi memutar tiang tersebut, sedetik setelah tiang tersebut berputar, sisi tembok tersebut bergerak dan membuka kedalam. Kekalahan mati merlimang darah, sementara kecurigaan berdiri dengan mengangkat kedua tangannya menjadi sang pemenang dengan menghujamkan senjatanya tepat didenyut kehidupan kekalahan. Sisi tembok tersebut bergeser dengan memberikan hembusan kelembaban. Dengan sedikit tenaga Alexa menggeser tembok yang berfungsi sebagai pintu masuk tersebut. Pada sisi kiri, dua puluh senti meter dari pintu masuk dia melihat sebuat tombol, dia berasumsi tombol tersebut sebagai tombol untuk menyalahkan lampu yang dia lihat diatas dan disetiap sisi tangga menurun kedalam ruang rahasia tersebut. Kakinya menapak setiap anak tangga tersebut menurun kebawah, tangannya menekan tombol tersebut, sekejab tangga masuk tersebut dibalut dengan cahaya LED memanjang disetiap sisi tangga, putih kebiruan. Sekitar 3 meter kebawah dia melihat sebuah pintu, dengan kunci elektronik. Dia tersenyum tipis, membuka kunci elektronik seperti ini bagi dirinya bukan merupakan hal yang sulit, akan tetapi tidak ada salahnya memberi dirinya sedikit kesenangan dengan berusaha menebak apa yang menjadi jawaban dari kunci elektronik tersebut. “Toh, bila semua tebakannya salah, dia masih bisa mempergunakan encoder portable yang ada ditravel kit yang selalu dia bawa didalam tas nya diatas.” Pikirnya pada saat itu.
“Ok.. dari mana kita mulai” lirihnya.
Ayah selalu tergila-gila dengan angka, diruang kosong kunci elektronik ini ada sembilan ruang kosong untuk dimasukan angka. Dan sembilan sepertinya urutan sempurna untuk bentuk angka piramida. “oke, bagaimana bila kita mulai dengan urutan aritmatika, seperti tidak ada salahnya memulai dengan urutan ini..” dengan suara perlahan yang mungkin hanya dia sendiri yang dapat mendengarkannya. Perlahan dia memasukan angka-angka, 1, 4, 7, 1, 0, 1, 3, 1, 6. Kemudian dia menekan tombol unlock. Sedetik itu pula lengkingan halus dengan lampu berwarna merah menyalah, tanda ia telah memasukan urutan angka-angka yang salah.
“Hmmm.. ok, itu tadi menyenangkan, senyumnya..”
“Ok, bila angka aritmatika tidak berpengaruh, tidak ada salahnya mencoba urutan angka geometric..”
Kembali dia memasukan angka-angka, 2, 4, 8, 1, 6, 3, 2, 6, 4. Kemudian dia menekan tombol unlock. Sedetik itu pula lengkingan halus dengan lampu berwarna merah menyalah kembali, tanda ia telah memasukan urutan angka-angka yang salah.
Kegusaran merasupi dirinya. Akan tetapi dia masih belum mau merasa kalah.
“Ok, kita coba urutan Fibonacci..” serunya dengan jauh lebih bersemangat.
“Hmmm.. ini sedikit konyol..”, pikirnya dalam hati. “Fibonacci terlalu pasaran, berjuta orang semakin banyak yang tahu urutan angka ini semenjak novel yang ditulis oleh seseorang tentang konspirasi itu meledak dipasaran. Akan tetapi.. tidak ada salahnya untuk sekedar mencoba.”
Perlahan dia memasukan angka-angka, 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 1, 3. Kemudian dia menekan tombol unlock. Sedetik itu pula lengkingan halus dengan lampu berwarna merah menyalah kembali, tanda ia telah memasukan urutan angka-angka yang salah.
Kegusarannya memuncak, aliran kekesalan mulai menjalar keseluruh nadinya. Pilihannya dua, dia tetap menebak-nebak sampai akhirnya dia tidak menemukan jawabannya, atau dia mempergunakan portable encoder yang dia miliki, dan menghilangkan semua kesenangan yang ada. Toh dia tidak terburu-buru, tidak ada yang mengejarnya pada saat ini, dan ini bukan misi rahasia yang harus diselesaikan dalam hitungan detik, jadi tidak ada salahnya bagi dia untuk sedikit meluangkan waktu untuk menebak-nebak. Akan tetapi, sebuah tebakan yang akurat lebih baik baginya saat ini.
Pikirannya memeras setiap kemungkinan yang ada. Mencoba mengingat setiap perkataan ayahnya. Dia melakukan olah kepribadian kepada ayahnya untuk mengungkap sebuah kebiasaan.
Ingatannya berusaha membuka kembali setiap lembar perjalanan hari bersama sang ayah. Setiap perkataan yang patut di garis bawahi, setiap kekaguman, bahkan setiap ide-ide yang berhubungan dengan angka-angka. “Ada kemungkinan ayah mempergunakan nama ku atau nama ibu yang kemudian di konversi ke angka?” tanyanya kepada dirinya sendiri. Akan tetapi kesadarannya yang lain menolaknya, karena bila ia mempergunakan nama panggilannya, itu akan terlalu pendek. Dan bila mempergunakan nama lengkapnya, itu akan terlalu panjang. Lebih dari sembilan karakter. Dan itu juga berlaku untuk ibu. Bahkan nama ayah sekali pun.
Ditengah keasikannya memecahkan teka-teki yang yang ada, ada satu hal yang selalu berulang dalam pengkajian karakter ayahnya. Bahkan dalam setiap perkataan dan tingkah lakunya. Kebanggaannya terhadap ras Yahudi sebagai ras terpilih yang tidak ada batasannya. Hal yang selalu ada, disetiap putaran pengkajian karakter yang ia lakukan. “Tapi apa hubungannya dengan angka-angka ini?” batinnya. Mungkin tidak ada sama sekali, tapi sesuatu mengganggunya, dan berusaha menariknya untuk menyelidiki lebih jauh. “Ok, untuk menyenangkan mu, aku akan berfikir lebih untuk ini..” serunya kepada dirinya sendiri. Dengan menghilangkan kata-kata yang tidak bermakna, ia kemudian menggaris bawahi beberapa kata. Yahudi, terpilih, tak ada berbatas. “Hmmm... “ kerut dikeningnya terlihat jelas.
“Meskipun aku mengganti kata Yahudi dalam bahasa Ibrani, dan menggantinya dengan unsur angka-angka, karena setiap abjad dalam karakter Ibrani mengandung unsur angka seperti karakter penulisan dalam Romawi, jumlahnya masih terlalu pendek, dan tidak berjumlah sembilan karakter.” Lirihnya.
“Hmmmm... bangaimana dengan tak terbatas?” Tanya nya kepada dirinya sendiri. “Apa yang berhubungan dengan tak terbatas ini?”
“Tunggu dulu..” serunya lirih kepada dirinya sendiri. “ bila aku menghubungkan tak terbatas dengan matematika dan angka, pada matematika ada sebuah bentuk yang menyerupai sebuah angka..tapi bentuknya seperti apa yah? Lanjutnya lagi, seraya bertanya kepada dirinya. Karena matematika bukan merupakan bidang yang sangat dia kuasai. Sejenak dia berusaha mengingat, akan tetapi kali ini dia memilih untuk menyerah dan bertanya kepada telepon genggam nya. Dikeluarkan iPhone nya dari saku belakangnya. Membuka aplikasi pencarian, kemudian melakukan pencarian dengan kata kunci Infinity Symbol. Sedetik kemudian senyumnya mengembang, tarikan nafas lega terlihat diraut mukanya. Dengan sangat jelas dia melihat angka itu. Ayahnya sangat suka dengan angka ini, disetiap sudut kehidupan angka ini selalu ada dalam keseharian ayahnya. Mulai dari nomor telepon selulernya, bahkan hingga nomor rumah mereka. Belum lagi nomor-nomor kendaraan atau nomor penting lainnya yang selalu memiliki unsur angka ini didalamnya. Dan Alexa mengerutu kepada dirinya, kenapa hal ini biasa sampai terlewat dalam analisa tentang ayahnya.
Dengan mantap dia memasukan angka tersebut kedalam sembilan karakter kosong kunci elektronik tersebut. Pengulangan angka delapan sebanyak sembilan kali. Terlepas dari begitu banyak misteri yang ada pada angka delapan, bagi ayahnya angka ini melambangkan ketidak terbatasan.
Dan ruangan itupun terbuka, sesaat kemudian lampu penerang otomatis pada ruangan tersebut menyalah. Dengan sangat perlahan dia mendorong daun pintu tersebut dan melangkah masuk. Didalam ruangan yang tertata sangat rapih dan terkesan sangat modern dan high tech tersebut dengan ukuran sekitar 8x6 meter dengan tembok yang berbentuk panel-panel, sebuah meja panjang dengan 4 buah monitor LCD ukuran besar tersusun menjadi satu pada sisi terjauh dari ruang tersebut dengan sebuah kursi kerja dihadapannya, dan sebuah meja yang berada ditengah-tengah ruangan dengan sebuah kotak panel yang berada tepat ditengah-tengah meja tersebut.
Hembusan pengatur sirkulasi udara didalam ruangan tersebut telah otomatis menyalah ketika pintu masuk tersebut terbuka beberapa saat yang lalu, Alexa menyadari hal tersebut ketika dia merasakan usapan lembut udara dingin yang bergerak perlahan dan sebagian lagi menarik hawa hampa yang tersisa dari dalam ruangan yang telah sekian waktu tidak dimasuki oleh seorang pun semenjak ayah nya meninggal dunia.
Dia mendekati salah satu sisi tembok panel, mengusap tembok tersebut sebentar, mengetahui bahwa panel-panel tersebut adalah lemari-lemari penyimpanan, kemudian membukanya. Rasa terkejut dan kagum bersatu pada saat itu, ia bukan dirinya yang sekarang pada waktu itu, ideologi yang selalu ditanamkan kepadanya masih menancap kuat pada dirinya. Terkejut karena sedkitpun ayahnya tidak pernah memberitahukannya akan tempat ini, kagum karena ayahnya telah meninggalkan kepadanya sesuatu yang sangat berharga untuknya dan untuk perjuangan.
Dengan sigap dia membuka semua panel yang ada pada sisi tembok, sesaat kemudian Alexa dapat melihat senjata dalam berbagai macam jenis. Dari yang berjenis senjata genggam, senjata buru sergap, senjata jenis pengintai, detonator peledak dari berbagai jenis serta bahan peledak dari berbagai macam jenis.
Tangannya meraih sebuah McMillan TAC-308 (McMillan Tactical Rifle) sejenis senjata pengintai dan buru sergap, mengecek kondisinya,mekanismenya, dan ketepatannya tanpa peluru didalamnya, kemudian meraih pelatuknya “tap..” sempurna, pikirnya. Diletakan kembali senjata tersebut ketempatnya, badannya berputar melihat semua koleksi senjata tersebut, dia dapat melihat Glock 29, Glock 39, Beretta Px4 Storm, Fort-12, CZ 110, Heckler & Koch P30, Kel-Tec PLR-16, MP7, Ruger SR, Ruger P, Walther PPS, Walther PPK, Caracal F, Accuracy International AW50, Accuracy International L115, Accuracy International L96, Barrett M107, CheyTac Intervention, Dragunov SVD, FR F2, Harris / McMillan M86, Heckler & Koch HK PSG-1, Heckler & Koch HK XM8, M110 SASS, Mk 14, M16, M4, AR15, AK47, Tavor 21, MP5, Steyr AUG, Heckler & Koch HK-416, Barret REC7, FAMAS, L85A2, G36 dan beberapa jenis senjata yang dia tidak ketahui, tumpukan kotak yang sepertinya peluru, boks magazine senjata, beberapa detonator dalam berbagai macam ukuran serta beberapa RPG. Di beberapa bagian area penyimpanan, dia juga melihat rompi anti peluru serta beberapa perlengkapan tempur lainnya. Hati nya sangat gembira.

Tetapi kegembiraannya yang dulu, tidak pernah terpancar lagi sekarang. Setiap kali ia memasuki ruang-ruang penyimpanan tersebut seolah-olah belati tajam menyayat hati nuraninya. Suara-suara jeritan pilu serta teriakan-teriakan yang menyayat warga Palestina serta aktivis muslim diseluruh dunia yang di hilangkan, diculik seta dibunuh atas nama Kejayaan Zionis membuat dirinya tidak biasa lagi menerima itu semua.

Alexa membereskan semua peralatannya, diambil tas hitam nya dari sofa setelah istirahat sejenak semenjak kedatangannya tadi beberapa menit yang lalu, melangkah menuju kulkas yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, perlahan dia membuka daun pintu tempat pendingin tersebut, mengambil sebuah jus buah dalam kotak kardus yang dia simpat didalam nya beberapa hari yang lalu diawal ketibaanya di Jordania, kemudian menuju lemari pantry, perlahan membuka penutupnya dan mengambil sebuah mug, menutup kembali dan melangkah menuju kamar yang menjadi akses masuk ruang penyimpanan rahasia.

Ruang penyimpanan ini masih seperti dulu, ketika pertama kali ia mamasukinya, tidak banyak yang berubah dan tidak banyak juga yang berkurang. Senjata dan peralatan tempur tersebut masih tersimpan dengan rapih karena selama ini, ketika ia diharuskan berada di Jordania tidak terlalu banyak yang dia pergunakan untuk misi-misinya.

Tas hitamnya dia letakan perlahan diatas meja ditengah ruangan tersebut, perlahan dia membuka tasnya dan mengeluarkan satu persatu isinya. Diletakan kembali M110 SASS ketempatnya semula, magazine-magazine yang tidak terpakai kedalam kotak penyimpanan peluru, sebuah Barrett M107 ketempat penyimpanan pada panel-panel tempatnya berada. Akan tetapi dia masih menyimpan glock 17, dan memisahkannya pada sisi meja tengah tersebut. Dengan cekatan dia menuju ketempat penyimpanan peluru 9mm dan magazine kosong, akan tetapi langkahnya terhenti ketika hati kecilnya menolak langkahnya karena extra peluru tidak terlalu diperlukan untuk saat ini, toh nanti dibandara Charles de Gaulle dia biasa mendapatkan kembali amunisi untuk senjata bawaannya. Karena selain ditempat persembunyian dan rumah singgah seperti ini, ayahnya juga memiliki banyak tempat penyimpanan rahasia, yang mungkin jumlahnya tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk menjalankan operasi atau untuk sekedar bertahan hidup bila dibutuhkan. Selain senjata, ditempat-tempat tersebut juga terdapat uang cash dalam beragam jenis mata uang, akan tetapi umumnya saat ini hanya tinggal Euro, Ponsterling atau US Dollar saja, meskipun dibeberapa tempat rahasia kadang dia menemukan uang-uang lama penggilan negara-negara eropa sebelum menjadi satu mata uang, peninggalan ayahnya waktu itu. Semua ini ia ketahui dari list yang dibuat ayahnya pada catatan logistik yang dimiliki ayahnya pada komputer yang terdapat diruangan ini. Satu station komputer saling berhubungan dengan semua komputer yang ada disemua rumah aman tempat singgah yang hampir semuanya Ia tahu lokasinya, dan sebagian lagi Ia tahu setelah melihat catatan logistik ini.

Sebenarnya dia juga tidak terlalu membutuhkan senjata ini, hanya saja untuk sekedar berjaga-jaga hingga nanti sampai kebandara. Setelah mengeluarkan semua barang-barang yang tidak diperlukan dan barang terakhir yang dikeluarkan adalah rompi tipis anti peluru berbahan Kevlar dengan teknologi terkini yang dibuat dan dikembangkan oleh Mossad khusus hanya untuk agen-agennya, Alexa melipat dengan rapi tas tersebut dan meletakannya kedalam panel penyimpanan. Setelah bertimbang sesaat Ia memutuskan untuk tetap membawa rompi Kevlar tersebut. Setalah membereskan semuanya, ia mulai mempersiapkan barang bawaan yang akan dibawanya untuk perjalanan lanjutannya setelah ini. Mossad telah berfikir dia telah mati, akan tetapi ada tim lain yang dia tidak ketahui siapa pada saat ledakan terjadi. Dan mereka telah membawa tubuh Diana yang menyamar menjadi dirinya. Dan dari gerak-geriknya tim tersebut telah memperhitungkan banyak hal, dan beruntung dirinya telah meletakan alat pemancar mini pada ikat pinggang Diana sebelum mereka berpisah di Singapura dua hari yang lalu. Dan dari alat pemantau mini yang berbentuk mirip seperti panel monitor mini dengan gambar peta dunia ditampilannya dan memiliki kalibrasi keakuratan sampai 5 meter lokasi, dia tahu Diana dibawa menuju landasan pacu kecil yang berada disebelah selatan Amman sekitar 100 kilometer kearah timur dari Queen Alia Airport. Dia tidak tahu dengan pasti kemana Diana akan dibawa, akan tetapi pada saat ini dia juga memiliki kepentingan yang jauh lebih besar, hilangnya Lukman setelah hubungan percintaan dengannya diketahui oleh Mossad terungkap membuat dirinya sangat khawatir. Dan menemukan Lukman pada saat ini menjadi prioritasnya yang utama. 

***

to be continue
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Arie Armend | dMEAD Campur
Copyright © 2011. everything and anything - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Arie Armend
Proudly powered by Premium Blogger Template